Kamis, 26 Juni 2008

Ternytata orang cacatlah obatnya

Obat dokter tidak bisa menyembuhkannya,
mengapa justru orang cacat itu yang bisa
menyembuhkan penyakitnya...?

Pak Hasan, adalah jama'ah dari embarkasi Surabaya. Ia dan istrinya berangkat ke
Mekkah kebetulan pada tahap gelombang ke dua. Artinya mereka datang dari Indonesia
langsung ke Mekah terlebih dahulu, baru kemudian ke Madinah.

Kondisi pak Hasan ketika berangkat memang agak sakit. Batuk pilek setiap hari.
Sampai dipakai berbicara saja tenggorokannya sudah terasa sakit. Batuk pilek yang
semacam itu memang membuat badan begitu capek lunglai. Semua persendian terasa
sakit. Sehingga menjadikan tubuh menjadi malas untuk diajak beraktivitas.

Beberapa kali pak Hasan diobati oleh dokter kloternya. Tetapi tetap saja sakitnya
tidak bisa sembuh. Rasanya semua macam obat yang berhubungan dengan penyakitnya
sudah ia minum. Tetapi tetap saja badan lunglai, kepala pusing bahkan batuknya
tidak pernah berhenti. Badan dengan kondisi semacam itu, mengakibatkan pak Hasan
sehari-harinya berdiam diri saja di hotel. Beberapa kali istrinya mengajaknya ke
masjidil Haram, tetapi rupanya tubuh pak Hasan tidak bisa diajak kompromi, ia
malas untuk pergi ke masjid.

"Aku belum bisa bu, dan belum kuat untuk pergi ke masjid. Ibu dulu aja-lah. Nanti
setelah badanku sembuh aku akan ke masjid dan akan melakukan ibadah dengan
sebaik-baiknya..." demikian kata pak Hasan kepada istrinya.

Karena sudah beberapa kali, jawaban pak Hasan selalu seperti itu, maka pada hari
itu istri pak hasan memohon dengan agak setengah memaksa kepada pak Hasan agar
siang itu mereka bisa bersama ke masjid untuk melakukan ibadah. Baik itu thawaf,
maupun shalat-shalat wajibnya.

Maka dengan agak terpaksa, berangkat juga mereka ke masjid. Pak Hasan di sepanjang
perjalanan menuju masjid tiada henti-hentinya batuk. Bahkan kakinya begitu capek
dipakai untuk berjalan. Tetapi toh, akhirnya sampai juga mereka di masjidil Haram.
Meskipun jarak dari maktab mereka menuju masjid cukup jauh.

Sesampai di masjid, mereka mencari tempat yang cukup nyaman. Pak Hasan dan
istrinya melakukan thawaf sunah sebagai penghormatan masuk masjidil Haram, sebelum
mereka melakukan ibadah lainnya.

Ketika pak Hasan dan istrinya melakukan thawaf inilah bagian dari cerita ini
dimulai... Dengan terbata-bata, dan masih digandeng oleh istrinya pak Hasan mulai
melakukan thawaf. Diayunkannya kaki kanannya untuk memulai thawaf.

"Bismillaahi allaahu akbar...!"Demikian kalimat pertama yang dilontarkan pak Hasan
sebagai pertanda ia memulai thawafnya. Maka dengan hati-hati sekali, karena
khawatir badannya bertambah lunglai, pak Hasan melangkahkan kakinya berjalan
memutari Ka’bah. Pada saat pak Hasan beberapa langkah memulai thawafnya itu,
tiba-tiba di sebelah kanannya, yang hampir berhimpitan dengan pak Masan, ada
seorang bertubuh kecil yang juga bergerak melakukan thawaf, beriringan dengan pak
Hasan. Entah apa yang menyebabkan pak Hasan tertarik dengan orang 'kecil' itu,
sambil berjalan lambat pak Hasan memperhatikan orang itu lebih seksama . "Mengapa
orang itu tubuhnya pendek, bahkan cenderung seperti anak kecil?" pikirnya.

Setelah beberapa lama pak Hasan memperhatikan orang tersebut, di tengah riuhnya
para jamaah yang juga sedang melakukan thawaf itu, tiba-tiba pak Hasan menjerit
lirih! " akh... !" katanya.

Begitu terkejutnya pak Hasan, sampai-sampai pak Hasan agak terhenti langkahnya.
Anehnya, orang itu pun ikut berhenti sejenak, kemudian menoleh kepada pak Hasan
sambil tersenyum. Ketika pak Hasan berjalan lagi, dia pun berjalan lagi, dan terus
mengikuti di samping pak Hasan. Ketika pak Hasan mempercepat langkah kakinya,
orang itu pun ikut mepercepat gerakannya, sehingga tetap mereka berjalan
beriringan.

Muka pak Hasan kelihatan pucat pasi. Bibirnya agak gemetar menahan tangis. Ia
betul-betul terpukul oleh perilaku orang tersebut. Seperti dengan sengaja, orang
itu terus mengikuti gerakan pak Hasan dari samping kanan. Bahkan yang membuat pak
Hasan mukanya pucat adalah orang tersebut selalu tersenyum, setelah menoleh ke
arah pak Hasan. Siapakah orang tersebut ?

Ternyata dia adalah seorang yang berjalan dan bergerak thawaf mengelilingi ka'bah
dengan hanya menggunakan kedua tangannya saja. Dia orang yang tidak memiliki
kaki....! Kedua kakinya buntung sebatas paha. Sehingga ia berjalan hanya dengan
menggunakan kedua tangannya.

Bulu kuduk pak Hasan merinding, jantungnya seolah berhenti berdegub. Keringat
dingin membasahi seluruh pori-pori tubuhnya...
Pak Hasan merintih dalam hatinya :
"...ya Allaah ampuni aku ya Allaah..., ampuni aku..." Air mata pak Hasan tidak
bisa dibendung lagi. Sambil tetap berjalan pak Hasan terus mohon ampun kepada
Allah.

Tanpa terasa, pak Hasan sudah memutari ka'bah untuk yang ke dua kalinya. Dan pak
Hasan pun masih terus menangis. Ingin rasanya ia berlari memutari ka'bah itu.
Ingin rasanya ia menjerit keras-keras untuk melampiaskan emosinya....pak Hasan
tidak tahu bahwa pada putaran yang ke dua itu ia sudah tidak bersama lagi dengan
orang tanpa kaki tersebut. Tidak tahu ke manakah perginya orang cacat itu. Seorang
yang selalu tersenyum meskipun tanpa kedua kaki.

Apa gerangan yang dipikirkan pak Hasan saat itu? Pak Hasan begitu malu pada
dirinya sendiri! Apalagi kepada Allah Swt. Pak Hasan merasa bahwa memang sakit.
Sakit flu, batuk, badan capek. Dan sudah beberapa hari berdiam diri saja di hotel
tidak ke masjid untuk thawaf. Dengan alasan badan capek, tenggorokan sakit, bahkan
obat dokter tidak ada yang bisa menyembuhkannya.

Sekarang, ditengah-tengah hiruk pikuknya para jama'ah yang sedang melakukan
thawaf, ternyata ada seorang yang tidak punya kaki, yang kondisi tubuhnya sangat
menyedihkan, tapi dengan mulut tersenyum ia melakukan thawaf...Akh! betapa
terpukulnya harga diri pak Hasan. Ia punya kedua kaki, badannya tegap, pikirannya
cerdas, datang jauh dari Indonesia, tetapi terserang penyakit ringan sejenis flu
saja sudah tidak mau beribadah? Sementara orang itu.....

Sungguh pak Hasan tidak kuasa bicara lagi. Ingin rasanya ia menjerit mohon ampunan
Allah Swt.... Atas kesalahan fatal, yang ia lakukan. Dan sejak saat itu, pak Hasan
tiba-tiba dapat bergerak gesit. Ia berjalan penuh dengan semangat mengelilingi
ka'bah pada putaran-putaran berikutnya. Dan secara tidak ia sadari badan pak Hasan
menjadi kuat. Ia tidak batuk-batuk lagi, bahkan tenggorokannya terasa begitu
ringan, ketika dipakai untuk berdo'a kepada Allah...!

Istri pak Hasan yang berjalan di samping pak Hasan, tidak mengetahui secara
detail, apa yang terjadi dalam diri pak Hasan. Yang ia tahu tiba-tiba pak Hasan
tidak batuk lagi, jalannya tidak lamban, bahkan cenderung gesit. Ah, rupanya pak
Hasan sudah sembuh

Ia disembuhkan oleh Allah lewat 'peragaan' orang cacat, yang selalu tersenyum
meskipun ia tidak punya kaki. Obat dokter tidak bisa menyembuhkan pak Hasan,
justru thawaf seorang cacat-lah, yang menjadi obat mujarabnya..
Mengapa bisa demikian ?

Sebab begitu pak hasan menyadari akan kesalahannya, ia langsung mohon ampun
sejadi-jadinya atas kekeliruan yang telah ia lakukan. Penyesalan yang tiada
terhingga itulah rupanya obat yang sesungguhnya.

QS. Hud (11) : 3
Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika
kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik
(terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan
memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.
Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari
kiamat.

QS. Hud (11) : 90
Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya
Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.

Sembuhnya pak Hasan, karena rasa penyesalan yang mendalam. Sembuhnya pak Hasan
karena ia bertaubat pada saat itu juga. Sembuhnya pak Hasan, karena Allah Dzat
Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu itu telah meridhainya. Sembuhnya pak Hasan
karena Allah memberikan sebuah obat berupa sebuah adegan atau suguhan menarik,
yang sangat mempengaruhi jiwa pak Hasan.

QS. Asy-Syuaraa' (26) : 80-82
dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku,
kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni
kesalahanku pada hari kiamat".









0 komentar:

Posting Komentar

dimohon isi komentar anda, Syukur ada yang mau ngasih kritik yang membangun, untuk membangun silaturahmi