Senin, 16 Juni 2008

Bankit

Semangat harus tetap kita pelihara dalam diri kita. Ia ibarat darah dalam hidup manusia, yang merangsang segenap anggota tubuh untuk beraktivitas. Penyakitnya adalah lemah semangat yang dikarenakan adanya kendala dan hambatan dalam beraktivitas. Suatu kondisi yang sebenarnya wajar terjadi dalam diri seseorang, namun jika kelamaan akan berdampak buruk.

Obat lemah semangat adalah motivasi diri. Motivasi yang bersandarkan dari dalam diri kita sendiri untuk bekerja dan berbuat semaksimal mungkin. Jika kita tergantung pada orang lain atau lingkungan untuk memotivasi kita, maka motivasi yang muncul tidak akan sampai pada tingkat “menggebu-gebu”. Kalaupun sampai pada tingkat “menggebu-gebu” sifatnya amat situasional dan temporer, tergantung pada stimulus lingkungan. Tidak bisa menjadi semangat yang langgeng dan lama.

Lakukanlah visualisasi. Visualisasi adalah upaya untuk membayangkan tujuan dengan sejelas-jelasnya dan sedetail mungkin, sehingga seolah-olah tujuan yang kita inginkan telah terwujud. Seperti mimpi yang kita alami ketika tidur. Seolah-olah mimpi itu nyata terjadi pada kita

Bertanggung jawablah akan keadaan. Karena tanggung jawab membuat seseorang merasa ada beban yang harus dipikulnya. Beban berupa amanah untuk melakukan sesuatu. Beban inilah yang membuat ia termotivasi untuk melakukan sesuatu.

Buatlah setiap suasana menjadi se-nyaman mungkin. Bila Anda lakukan sesuatu yang Anda sukai atau Anda merasa nyaman melakukannya, pasti Anda termotivasi.

Sudah merupakan fitrah manusia bahwa kita akan bersemangat melakukan sesuatu yang kita sukai. Kita akan termotivasi mengerjakan sesuatu bila kita merasa nyaman dan senang melakukannya. Itulah sebabnya para manajer perusahaan berusaha membuat karyawannya menyenangi pekerjaan yang mereka lakukan. Berbagai upaya mereka lakukan agar karyawan merasa nyaman melakukan pekerjaannya..

Bergeraklah (Move). Seringkali kita mengalami bahwa semangat kerja justru muncul setelah kita mulai bekerja. Bukan sebelum mulai bekerja. Sebelum memulai pekerjaan, kita merasa malas mengerjakannya. Kita merasa tidak mood (gairah) untuk bekerja. Rasa enggan itu terus menggelayuti kita sampai akhirnya kita memaksakan diri untuk bekerja. Pertama-tama terasa berat untuk memulai pekerjaan tersebut, tapi lama kelamaan keterpaksaan itu hilang. Malah berganti dengan perasaan senang dan mudah melakukannya. Sampai akhirnya kita malah asyik dan “tenggelam” dengan pekerjaan tersebut. Bahkan mungkin sampai lupa waktu dan makan.










0 komentar:

Posting Komentar

dimohon isi komentar anda, Syukur ada yang mau ngasih kritik yang membangun, untuk membangun silaturahmi