Kamis, 26 Juni 2008

Leadership Vs Leadersick

Pemimpin yang efektif dibutuhkan dalam suatu organisasi. Namun, kenyataan masih banyak pemimpin organisasi di Indonesia yang tidak memiliki jiwa Leadership atau kepemimpinan yang menjadi salah satu kunci keberhasilan sebuah organisasi bekerja mewujudkan visi dan misinya. Namun, untuk menjadi pemimpin yang memiliki wawasan leadership tidak gampang.

Pemimpin harus memiliki sikap yang jadi bagian dari kepemimpinan seperti mampu mengelola aksi, informasi dan komunikasi secara efektif. Tetapi belum tentu orang yang memegang tampuk pimpinan atau posisi paling atas dapat dikatakan sebagai pemimpin.

Yang terjadi justru sebaliknya dan ini malah bertentangan dengan nilai-nilai leadership. Ada semacam 'penyakit' umum yang menjangkiti diri pimpinan.

Sama seperti jargon umum yang mengatakan power tends to corrupt, sikap-sikap pemimpin bisa saja melenceng ke arah arogansi, otoriter, tidak bisa menerima kritik, superior, tidak bisa mengelola perbedaan dan konflik, bermental bos atau priyayi, tidak bisa bekerjasama, single fighter, dan tidak akomodatif.

Sikap-sikap negatif di atas itu biasa disebut leadersick sebab justru bertentangan dengan nilai-nilai dalam leadership.

Terminologi leadersick bukan istilah yang umum digunakan. Istilah ini semata-mata merupakan gabungan dari kata leader yang artinya pemimpin dan sick yang artinya sakit. Bila digabung bisa diartikan 'pemimpin yang sakit' yang tidak bersikap selayaknya seorang pemimpin.

Kecenderungan leadersick banyak dijumpai di berbagai organisasi atau instansi swasta, terlebih instansi pemerintah.

Jika kita membicarakan instansi pemerintah maka sama artinya kita membicarakan aparatur yang seringkali dikeluhkan tidak becus bekerja, ketidakbecusan itu bahkan terekam dalam update survey November 2004 dari Japan Bank for International Cooperation.

Tak ada salahnya jika kemudian kita mencontoh Amerika Serikat yang sampai repot-repot mengeluarkan Creating a Government That Works Better & Costs Less pada 2001 yang oleh Presiden George W. Bush dimaksudkan untuk menangkap pasar.
Menurut Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Taufiq Effendi, di dalam organisasi di Indonesia seringkali ditemukan fenomena kepemimpinan dan manajemen yang terkesan alami dan bersifat tumpang tindih.

"Salah satunya diakibatkan oleh kurang dipahami dan dikuasainya adanya perbedaan antara manager dan leader," ujarnya dalam sambutan tertulis pada Bincang-bincang setengah hari leadership vs leadersick yang diselenggarakan oleh Mitra Kinerja Indonesia di Hotel Hilton Jakarta belum lama ini.

Menurut dia, sebetulnya jika hal itu dikaji lebih mendalam pendidikan formal dapat memberikan sumbangan dalam rangka perbaikan. Misalnya melalui proses pengenalan dan diseminasi konsep-nilai-nilai yang berkaitan dengan kepemimpinan.
Sedangkan program pengembangan kepemimpinan seperti pelatihan dapat meningkatkan kemampuan yang bersifat teknis.

Di kalangan pegawai negeri sipil dikenal Diklat Pimpinan (Diklatpim) yang merupakan upaya untuk mempersiapkan dan membekali PNS dalam rangka menduduki jabatan struktural sesuai dengan jenjang eselon.

Dua materi utama dalam diklat itu meliputi dimensi kepemimpinan dan dimensi manajerial. Desain diklat tersebut berdasarkan pada kerangka konseptual bahwa PNS yang menduduki jabatan struktural melaksanakan kedua peran tersebut.

Selain itu diharapkan dari diklat muncul managerial leader yang visioner dan mampu melakukan perubahan-perubahan menuju perbaikan secara sistematis dan terukur, dan tentu saja harapan terbesar adalah mampu memberikan perubahan yang berarti di instansi tempat dia berasal.

Meskipun begitu Taufiq tidak menampik hambatan yang dihadapi yaitu menyangkut aktualisasi aspek perilaku yakni sejauh mana penerapan nilai, prinsip dan teknologi yang diterima selama diklat . Tantangan lain yang dipandang cukup memprihatinkan adalah adanya resistensi internal yang disebut Taufiq sebagai permanent system.







0 komentar:

Posting Komentar

dimohon isi komentar anda, Syukur ada yang mau ngasih kritik yang membangun, untuk membangun silaturahmi