Senin, 05 Maret 2007

Betapa Hal Kecil Bisa Merubah Hidup Anda.::.Dari ihwan sopa

*"Berhentilah mengecilkan sesuatu hanya karena fenomena fisiknya. Mungkin
itu bisa merubah hidup Anda." *
*Ikhwan Sopa - Trainer*

*Tips 142:
Betapa Hal Kecil Bisa Merubah Hidup Anda *

*ANDA MUNGKIN SERING MEREMEHKAN*

Anda mungkin sudah sangat sering mendengar nasehat ini, "api kecil adalah
kawan, api besar adalah lawan". Saat api masih kecil ia adalah energi yang
bersahabat dan menghangatkan. Akan tetapi, saat ia menjadi besar dan tidak
terkendali, ia akan menjadi malapetaka yang menyengsarakan. Anda, biasa
mencontohkannya dengan kebakaran.

Api yang kecil sering kita remehkan. Mungkin saja karena ia masih "no harm",
cuma hangat dan sama sekali tidak panas. Api kecil kita remehkan hanya
karena ia bersahaja dan bersahabat. Terus begitu sampai semuanya sudah
terlambat. Itulah yang bisa terjadi sesungguhnya, yaitu sikap yang
meremehkan. Maka, tidak jarang kita mendengar musibah kebakaran, yang
terjadi "hanya karena" sepuntung rokok, setengah sisa lilin, atau sepercik
sulut dari colokan AC yang "konslet".

Disadari atau tidak, kita juga sangat mungkin sering memandang sesuatu
dengan sebelah mata. Plastik kresek di tengah jalan. Botol air mineral yang
menyumbat selokan. Sedikit air menggenang di batok kelapa yang telentang.
Seulas oli yang merembes di sela-sela sil mesin kendaraan, dan sebagainya.

Bisa jadi, kita juga sering meremehkan apa yang ada pada orang lain. Orang
yang cacat, orang yang tidak mampu, orang yang berpenampilan buruk, orang
yang tak terdidik, orang yang ber-iq rendah, orang yang tidak bisa
menyebutkan huruf "r" dengan benar, orang yang tidak ngganteng, dan
sebagainya.

Bahkan disadari atau tidak, kita mungkin sudah terbiasa juga dalam
meremehkan, apa-apa yang ada pada diri dan di dalam jiwa kita. Bahwa Anda
perlu mencoba menulis, sebanyak Anda berbicara atau mendengar, Anda belum
tentu melakukannya. Bahwa kita perlu secara teratur berolahraga, kita
mungkin lebih memilih bergelung di pagi buta. Bahwa Anda perlu juga
berekreasi dan tidak terlalu gila dalam bekerja. Bahwa kita tidak perlu
terlalu banyak bagadang. Bahwa Anda musti selalu berpikiran positif. Bahwa
kita perlu untuk sering bersilaturahim. Bahwa Anda perlu ikhlas dan menerima
keadaan tanpa terlalu banyak bertanya, dan sebagainya.

Semua itu mungkin saja kita remehkan, sampai semuanya mulai terbuka. Terbuka
menyeruak dan menunjukkan sikap protesnya. Maka, mulailah tubuh Anda merasa
kurang fit. Hati Anda lebih mudah terguncang dan tergoyahkan. Fisik Anda
mulai melemah. Pikiran Anda mulai kacau. Iri dan dengki mulai menghinggapi.
Bermacam-macam implikasinya. Bagaimana dengan tekanan darah? Bagaimana
dengan kondisi jantung yang mungkin bisa menjadi lemah?

Kesadaran itu seperti hampir selalu terlambat datangnya. Sebabnya, hanya
karena kita telah terlanjur meremehkan dan menunda. Jika Anda tidak termasuk
dalam contoh di atas, ya syukurlah. Anda, bisa jadi sehat jiwa dan raga.
Congratulation!

*HAL KECIL BISA MERUBAH HIDUP ANDA*

Dua pertanyaan yang paling sering harus Saya jawab berkaitan dengan workshop
sehari Saya adalah:

Apakah satu hari bisa merubah hidup Saya?
Apakah perubahan itu akan permanen sifatnya?

Saya biasa menjawabnya dengan gambaran yang sederhana. Saya jelaskan sambil
bertanya, "apakah satu detik bisa merubah hidup seseorang?" Kemudian Saya
jawab sendiri, "ya!" Bagaimana hal itu bisa terjadi? Di sinilah Anda sering
lupa, karena sebenarnya jawaban pertanyaan itu selalu berseliweran di depan
mata Anda!

Bukan bermaksud mendoakan terjadinya musibah dan bencana, ini hanya gambaran
dan cerita.

Seseorang yang terbiasa berkendaraan di jalan tol, mungkin saja meremehkan
aktivitas berkendaranya. Jika tidak berhati-hati, "kemelengannya" akan
membawa celaka. Dan "meleng" itu, adalah jelas sebuah tanda meremehkannya.
Atau jikapun yang bersangkutan sudah cukup berupaya untuk selalu fokus dan
berkonsentrasi dengan kemudinya, mungkin saja tiba-tiba mobilnya pecah ban.
Sangat mungkin bukan? Berapa detikkah itu terjadi? Berubahkah hidupnya?
Berubahkah hidup keluarganya? Berubahkah hidup anak dan istri atau suaminya?

Sebuah pesawat yang terjun menghunjam ke laut dan terus merasuk sampai ke
dasarnya, berapa detik? Kapal yang tenggelam ke dasar laut, berapa menit?
Berubahkah kehidupan mereka, kehidupan sanak dan familinya? Ya! Hidup ini
tidak akan pernah sama lagi bagi mereka.

Tapi Pak Sopa, bukankah semua itu adalah persoalan besar dan bukan hal kecil
seperti yang Bapak maksud? Ya saudaraku, kita tidak bisa tidak, akan
melihatnya sebagai sebuah peristiwa besar yang memilukan setiap hati dan
mata. Peristiwa kemanusiaan yang penuh tragedi dan bela sungkawa. Memang
itulah adanya.

Akan tetapi, bagaimanakah selama ini Anda melihatnya dengan kaca mata self
development, dari kacamata pengembangan diri Anda sebagai seorang
pembelajar? Anda mungkin lupa, atau bahkan Anda mungkin belum melihatnya.
Itulah yang terjadi, dan itulah yang mungkin sudah terlanjur menjadi
kebiasaan. Anda mungkin telah melupakan, bahwa itu bukan hanya peristiwa
sosial yang nyata, akan tetapi juga pelajaran untuk pengembangan.

Maka, tidak aneh jika kemudian muncul berbagai reaksi terhadap semua itu,
yang seolah-olah berkata, "kok bisa ya?" Ya tentu saja bisa! Lha wong selama
ini sudah terlihat dengan jelas bahwa arahnya memang ke sana kok. Hanya
saja, selama ini banyak orang hanya melihatnya sebagai sebuah fenomena
sosial, fenomena melorotnya ekonomi, fenomena mundurnya sikap ke arah yang
lebih "semau gue" dan "yang penting gue". Di mana fungsinya sebagai alat
pengembangan diri, sebagai alat belajar dan antisipasi?

Hidup Anda bisa berubah hanya dalam sekian detik. Dan itu, Anda yang
melakukannya, bukan Saya. Bukan siapa-siapa. Hidup kita bisa berubah dalam
sekian detik, dan itu karena kita sendiri. Jika belajar Insya Allah positif,
dan jika tidak tentu negatif.

Pertanyaan kedua, biasanya Saya jawab dengan berkaca pada berbagai kenyataan
lain, yang melekat pada diri kita. Apakah uang Anda permanen? Apakah Anda
akan selalu sehat sejahtera? Apakah nyawa Anda permanen? Apa yang harus Anda
lakukan? Tentu saja memeliharanya selagi bisa!

Dan khusus untuk workshop Saya yang tentang percaya diri itu, Saya
kembalikan saja kepada si penanya, bahwa semua ini adalah tentang
mempercayai diri sendiri. Maka, seberapa jauh dan kuatkah keinginannya,
untuk mempertahankan dan memelihara rasa percaya diri itu? Seberapa
percayakah Anda, bahwa Anda memang akan selalu percaya diri? Tahukah Anda
cara mempertahankannya?

Pada intinya, Anda tidak punya pilihan lain, kecuali melakukan tugas
memelihara, sebagai limpahan tugas dari Tuhan Yang Maha Pemelihara. Sebesar
apapun yang diamanatkan kepada Anda, dan tentu saja: sekecil apapun.

*TIDAK ADA YANG KECIL UNTUK PENGEMBANGAN DIRI ANDA*

Perubahan hidup seseorang adalah sebuah titik sentak. Adalah benar bahwa
prosesnya berjalan dengan durasi dan eskalasi tertentu. Namun demikian,
event perubahan itu sendiri adalah sebuah titik. Sebuah titik puncak, yang
karena merupakan puncak, seringkali terlewatkan dan dianggap kecil. Dan jika
itu yang terjadi, maka bahkan prosesnya pun kita sering lupa. Kok bisa
begini ya? Aku nggak habis pikir hasilnya seperti ini?

Apa yang disebut dengan proses perubahan, adalah kumpulan dari titik-titik
event perubahan. Kumpulan dari sentakan-sentakan yang mendaki. Ketahuilah
bahwa pendakian perubahan tidak akan pernah mulus. Maka, proses perubahan
lebih akurat digambarkan sebagai serangkai undakan anak tangga, ketimbang
sebuah grafik yang melengkung dengan halus.

Adalah tidak aneh bahwa hidup seseorang bisa berubah - ke arah yang baik
maupun ke arah yang buruk, hanya dalam waktu yang singkat dan dengan sebuah
peristiwa yang "kecil". Betapa banyaknya kisah sufi yang memberi contoh,
bahwa hal kecil adalah pelajaran yang sangat besar dan berharga. Maka,
janganlah lagi Anda meremehkan apa yang Anda sebut dengan kecil, sebentar,
singkat, "se-upil", "teri", minim, pendek, atau sekilas saja.
Berhati-hatilah, karena semua itu sangat mungkin bisa merubah hidup Anda.

Jika Anda mabuk, kemudian Anda menusuk seseorang hingga mati, maka hidup
Anda jelas berubah. Jika Anda tidak sengaja menabrak orang lain hingga
sekarat, hidup Anda juga akan berubah. Berapa detik?

Perubahan besar di dalam hidup Anda, juga bisa terjadi "hanya" karena
hal-hal yang "kecil".

Seorang peserta workshop Saya, menyatakan sangat puas di sore hari setelah
selesai acaranya. Akan tetapi, ada pernyataan dia yang membuat Saya ingin
menyelidiki. Pernyataan kepuasan itu, diutarakan dengan menyisipkan kata
"padahal". "Saya sangat puas, padahal Saya ikut workshop ini dengan tanpa
sengaja." Dua hal bahkan yang menggoda Saya, "padahal" dan "tanpa sengaja".

Waspadalah, there is no such thing as "padahal" dan "kagak sengaja".
Semuanya adalah keputusan Anda. Dan tidaklah bijaksana jika Anda mengatakan
"padahal" dan "tidak sengaja", hanya berdasarkan fenomena fisik saja. Sebab
jika Anda terjerat olehnya, Anda cenderung mengecilkan berbagai hal yang
sebenarnya besar dan bisa merubah hidup Anda.

Besar atau kecil, tidak terletak pada fenomena fisiknya. Sebab, bukan itu
realitanya. Realitanya, adalah apa yang ada di kepala Anda. Itu sebabnya,
Anda dianjurkan untuk tidak berhenti membaca sebuah buku, jika telah selesai
membacanya sekali. Setiap orang bijak, akan mengatakan, "bacalah lagi,
bacalah lagi, dan bacalah lagi". Jika Anda berhenti membacanya setelah satu
kali, maka Anda telah mengecilkan makna sebuah buku, hanya karena frekuensi
bacanya. Padahal, jika sekali baca belum berpengaruh pada diri Anda, tidak
berarti membacanya sekali lagi akan begitu juga.

Jika Anda mendapatkan kado ulang tahun dari "yayang" Anda, dan Anda hanya
mendapatkan sebuah figura, padahal Anda berharap mendapatkan berlian dan
permata, apa reaksi Anda? Kecewa dan kemudian mengecilkannya? Jangan!
Berpikirlah bahwa "yayang" Anda telah berupaya sekerasnya, dengan sepenuh
cinta, dengan setulus hati, dengan rasa sayang setengah mati. Hanya itulah
yang akan membuat Anda, tidak kehilangan makna.

Saya menelusuri ke staf Saya, berkaitan dengan "sejarah" dari peserta
workshop Saya tadi. Dan ternyata, dia sudah menunda untuk mengikuti workshop
Saya sampai tiga kali. Beginilah cerita peserta itu kepada Saya.

Di suatu siang, ia memasuki sebuah kantin di bilangan Kuningan, untuk lunch.
Hari itu, kebetulan ia sendirian. Di pintu kantin, ia melihat sebuah meja
agak di pojokan, kosong tanpa penghuni. Ia menuju ke sana. Duduk dengan
manis, dan mulai membaca menu mencari penganan yang dia mungkin suka. Dari
sudut matanya, ia memperhatikan bahwa mejanya belum dibersihkan. Di sudut
yang lain, matanya tertumbuk pada selembar kertas lusuh yang sudah setengah
basah. Pikirnya, itu adalah kertas yang ditinggalkan oleh pejajan
sebelumnya. Hmm, kertas yang sedang diremehkan dan dianggap tak berguna.

Selesai makan, ia penasaran. Disambarnya kertas itu, dan dibawanya pulang ke
kantor. Entah bagaimana, kertas itu tetap dipertahankan dan tidak dibuangnya
ke tong sampah. Mungkin, karena ia mulai tertarik dengan isinya, informasi
tentang workshop Saya.

Saya tidak tahu apakah brosur workshop Saya itu sering dibacanya atau tidak,
akan tetapi menurut staf Saya, ia menunda ikut sampai tiga kali, sebelum
akhirnya memutuskan untuk hadir dan mengikuti. Mungkin, fenomena fisik yang
sama juga masih menghinggapinya, hingga ia belum juga terpengaruh olehnya.
Atau, waktunya yang belum memungkinkan, tapi ia sendiri juga mengatakan
bahwa waktunya longgar karena ia cukup "boss" di kantornya.

Dan seperti yang sudah Saya ungkapkan di atas, ia mengatakan sangat puas
setelah mengikuti workshop Saya. Berubahkah hidupnya? Ya! Berulang kali ia
menelepon Saya, hanya untuk berbincang dan mengingatkan kembali, bahwa kini
ia sudah lebih percaya diri.

Hidupnya berubah. Dan itu terjadi, "hanya karena" selembar brosur, yang
telah lusuh dan kumuh tertumpah kuah mi ayam, yang semula diremehkannya dan
ditemukan "tanpa sengaja"! Waspadalah, dan berhentilah membesar-kecilkan
makna, hanya karena fenomena fisiknya. Tidak baik untuk Anda.

*HAL KECIL BISA BERBAHAYA UNTUK ANDA*

Anda mungkin sudah pernah mendengar cerita ini.

Seorang jenderal, berkuda di depan memimpin pasukannya memasuki sebuah kota.
Ia dan pasukannya, baru saja menaklukkan kota itu. Maka, parade kemenangan
itu mulai dirayakan saat memasuki kota taklukan dengan gagahnya. Dagu Sang
Jenderal terangkat saat memasuki gerbang kota. Kudanya pun melangkah dengan
gagah. Begitu pula pasukannya.

Di sepanjang jalan utama, di kiri dan kanan jalan setiap orang duduk
bersimpuh. Merendahkan diri sebagai bangsa yang telah takluk. Mengangkat
kepala pun mereka tidak berani. Dipancung nanti. Begitulah, Sang Jenderal
dan pasukannya, derap demi derap menyusuri jalan utama kota.

Di suatu belokan, Sang Jenderal melihat seorang tua terbungkuk-bungkuk,
tertatih melangkah perlahan menyeberangi jalan. Sang Jenderal tersinggung
melihatnya. Ia yang merasa sebagai penakluk, harus terhalang jalan oleh
seorang tua renta yang kumuh dan baunya tercium kemana-mana. Ditegurnya Pak
Tua itu dengan keras, "Hei tua renta! Tahukah engkau siapa aku? Akulah
penguasa kota ini sekarang!"

Pak tua itu mengangkat kepalanya perlahan, memandang Sang Jenderal sebentar,
dan kemudian tanpa acuh meneruskan langkahnya menyeberang jalan. Perlahan
dan menggemaskan. Sang Jenderal pun naik pitam. Jika saja tidak tua renta,
ia sudah menghunus dan menebaskan pedangnya. Ia sekali menghardik, "Hai kau
tua renta, engkau pikir dirimu siapa! Minggirlah sebelum kupancung kepala
busukmu itu!"

Sekali lagi, Pak Tua berhenti dan mengangkat kepalanya, dan sekarang ia
mengangkat tangannya, menegakkan jari telunjuknya, memberi isyarat tanda
memanggil. Bukan kepalang kemarahan Sang Jenderal. Sesak dadanya dan
mendidih kepalanya. Tanpa sadar, ia menggiring kudanya mendekati Pak Tua
renta. Dipelototinya Pak Tua itu tanpa bisa berkata apa-apa. Pak Tua, dengan
nekatnya terus menggerakkan telunjukknya. Kurang dekat, mungkin itu
maksudnya. Ia ingin mengatakan sesuatu.

Di atas kuda, Sang Jenderal sudah tertelan oleh kemarahannya atas
"keremehan" Pak Tua. Tapi saking tak tahu harus bagaimana, ia malah
menjulurkan kepalanya untuk bisa mendengar bisikan Pak Tua. Setelah begitu
dekat telinga Sang Jenderal ke mulut Pak Tua, Pak Tua itu membisikinya
dengan desahan lirih yang hampir tak terdengar.

*"Saya Izroil..."*

Jenderal itu melorot dari kudanya dan langsung mati.

Berhentilah mengecilkan sesuatu, hanya karena fenomena fisiknya. Anda akan
kehilangan makna. Padahal itu, mungkin saja bisa merubah hidup Anda.

*Ikhwan Sopa*
Trainer E.D.A.N.

1 komentar:

  1. Salam kenal Mas Eko, makasih banyak atas apresiasinya. Semoga materinya bermanfaat buat kita semua.

    Sukses selalu buat Mas Eko,

    Ikhwan Sopa
    Trainer E.D.A.N
    http://milis-bicara.blogspot.com

    BalasHapus

dimohon isi komentar anda, Syukur ada yang mau ngasih kritik yang membangun, untuk membangun silaturahmi