Rabu, 25 Juni 2008

AGAMA

Tidak mudah mendefinisikan agama, apalagi di dunia ini kita
menemukan kenyataan bahwa agama amat beragam. Pandangan
seseorang terhadap agama, ditentukan oleh pemahamannya
terhadap ajaran agama itu sendiri. Ketika pengaruh gereja di
Eropa menindas para ilmuwan akibat penemuan mereka yang
dianggap bertentangan dengan kitab suci, para ilmuwan pada
akhirnya menjauh dari agama bahkan meninggalkannya.

Persoalan yang menjadi topik pembicaraan kita mau tak mau
harus muncul, "Apakah agama masih relevan dengan kehidupan
masa kini yang cerminannya seperti digambarkan di atas?"
Sebelum menjawab, perlu terlebih dahulu dijawab: Apakah
manusia dapat melepaskan diri dari agama?" Atau, "Adakah
alternatif lain yang dapat menggantikannya?"

Dalam pandangan Islam, keberagamaan adalah fithrah (sesuatu
yang melekat pada diri manusia dan terbawa sejak
kelahirannya):

Fitrah Allah yang menciptakan manusia atas fitrah itu
(QS Ad-Rum [30]: 30)

Ini berarti manusia tidak dapat melepaskan diri dari agama.
Tuhan menciptakan demikian, karena agama merupakan kebutuhan
hidupnya. Memang manusia dapat menangguhkannya sekian lama
--boleh jadi sampai dengan menjelang kematiannya. Tetapi pada
akhirnya, sebelum ruh rmeninggalkan jasad, ia akan merasakan
kebutuhan itu. Memang, desakan pemenuhan kebutuhan
bertingkat-tingkat. Kebutuhan manusia terhadap air dapat
ditangguhkan lebih lama dibandingkan kebutuhan udara. Begitu
juga kebutuhan manusia makanan, jauh lebih singkat
dibandingkan dengan kebutuhan manusia untuk menyalurkan naluri
seksual. Demikian juga kebutuhan manusia terhadap agama dapat
ditangguhkan, tetapi tidak untuk selamanya.

Ketika terjadi konfrontasi antara ilmuwan di Eropa dengan
Gereja, ilmuwan meninggalkan agama, tetapi tidak lama kemudian
mereka sadar akan kebutuhan kepada pegangan yang pasti, dan
ketika itu, mereka menjadikan "hati nurani" sebagai alternatif
pengganti agama. Namun tidak lama kemudian mereka menyadari
bahwa alternatif ini, sangat labil, karena yang dinamai
"nurani" terbentuk oleh lingkungan dan latar belakang
pendidikan, sehingga nurani Si A dapat berbeda dengan Si B,
dan dengan demikian tolok ukur yang pasti menjadi sangat
rancu.

Setelah itu lahir filsafat eksistensialisme, yang
mempersilakan manusia melakukan apa saja yang dianggapnya
baik, atau menyenangkan tanpa mempedulikan nilai-nilai.

Namun, itu semua tidak dapat menjadikan agama tergusur, karena
seperti dikemukakan di atas ia tetap ada dalam diri manusia,
walaupun keberadaannya kemudian tidak diakui oleh kebanyakan
manusia itu sendiri.

William James menegaskan bahwa, "Selama manusia masih memiliki
naluri cemas dan mengharap, selama itu pula ia beragama
(berhubungan dengan Tuhan)." Itulah sebabnya mengapa perasaan
takut merupakan salah satu dorongan yang terbesar untuk
beragama.

I1mu mempercepat Anda sampai ke tujuan, agama
menentukan arah yang dituju.

I1mu menyesuaikan manusia dengan lingkungannya, dan
agama menyesuaikan dengan jati dirinya.

I1mu hiasan 1ahir, dan agama hiasan batin.

I1mu memberikan kekuatan dan menerangi jalan, dan agama
memberi harapan dan dorongan bagi jiwa.

I1mu menjawab pertanyaan yang dimulai dengan
"bagaimana", dan agama menjawab yang dimulai dengan
"mengapa."

Ilmu tidak jarang mengeruhkan pikiran pemiliknya,
sedang agama selalu menenangkan jiwa pemeluknya yang
tulus.

Demikian Murtadha Muthahhari menjelaskan sebagian fungsi dan
peranan agama dalam kehidupan ini, yang tidak mampu diperankan
oleh ilmu dan teknologi. Bukankah kenyataan hidup masyarakat
Barat membuktikan hal tersebut?

Manusia terdiri dari akal, jiwa, dan jasmani. Akal atau rasio
ada wilayahnya. Tidak semua persoalan bisa diselesaikan atau
bahkan dihadapi oleh akal. Karya seni tidak dapat dinilai
semata-mata oleh akal, karena yang lebih berperan di sini
adalah kalbu. Kalau demikian, keliru apabila seseorang hanya
mengandalkan akal semata-mata.

Akal bagaikan kemampuan berenang. Akal berguna saat berenang
di sungai atau di laut yang tenang, tetapi bila ombak dan
gelombang telah membahana, maka yang pandai berenang dan yang
tidak bisa berenang sama-sama membutuhkan pelampung.

Dalam hubungannya dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, agama sesungguhnya sangat berperan, terutama jika
manusia tetap ingin jadi manusia. Ambillah sebagai contoh
bidang bio-teknologi. Ilmu manusia sudah sampai kepada batas
yang menjadikannya dapat berhasil melakukan rekayasa genetika.
Apakah keberhasilan ini akan dilanjutkan sehingga menghasilkan
makhluk-makhluk hidup yang dapat menjadi tuan bagi penciptanya
sendiri? Apakah ini baik atau buruk? Yang dapat menjawabnya
adalah nilai-nilai agama, dan bukan seni, bukan pula filsafat.

Jika demikian, maka tidak ada alternatif lain yang dapat
menggantikan agama. Mereka yang mengabaikannya, terpaksa
menciptakan "agama baru" demi memuaskan jiwanya.

Dalam pandangan sementara pakar Islam, agama yang diwahyukan
Tuhan, benihnya muncul dari pengenalan dan pengalaman manusia
pertama di pentas bumi. Di sini ia memerlukan tiga hal, yaitu
keindahan, kebenaran, dan kebaikan. Gabungan ketiganya dinamai
suci. Manusia ingin mengetahui siapa atau apa Yang Mahasuci,
dan ketika itulah dia menemukan Tuhan, dan sejak itu pula ia
berusaha berhubungan dengan-Nya bahkan berusaha untuk
meneladani sifat-sifat-Nya. Usaha itulah yang dinamai
beragama, atau dengan kata lain, keberagamaan adalah
terpatrinya rasa kesucian dalam jiwa beseorang. Karena itu
seorang yang beragama akan selalu berusaha untuk mencari dan
mendapatkan yang benar, yang baik, lagi yang indah.

Mencari yang benar menghasilkan ilmu, mencari yang baik
menghasi1kan akhlak, dan mencari yang indah menghasilkan seni.

Jika demikian, agama bukan saja merupakan kebutuhan manusia,
tetapi juga selalu relevan dengan kehidupannya. Adakah manusia
yang tidak mendambakan kebenaran, keindahan dan kebaikan?

IDE DASAR PERDAMAIAN

Agaknya, cukup dengan memahami makna nama agama ini yakni
Islam, seseorang telah dapat mengetahui bahwa ia adalah agama
yang mendambakan perdamaian. Cukup juga dengan mendengarkan
ucapan yang dianjurkan untuk disampaikan pada setiap
pertemuan. "Assalamu 'Alaikum" (Damai untuk Anda), seseorang
dapat menghayati bahwa kedamaian yang didambakan bukan hanya
untuk diri sendiri, tetapi juga untuk pihak lain. Kalau
demikian, tidak heran jika salah satu ciri seorang Muslim,
adalah seperti sabda Nabi Muhammad Saw.

Siapa yang menyelamatkan orang lain (yang mendambakan
kedamaian) dari gangguan lidahnya dan tangannya.

Perdamaian merupakan salah satu ciri utama agama Islam. Ia
lahir dari pandangan ajarannya tentang Allah, Tuhan Yang
Mahakuasa, alam, dan manusia.

Allah, Tuhan Yang Maha Esa, adalah Maha Esa, Dia yang
menciptakan segala sesuatu berdasarkan kehendak-Nya semata.
Semua ciptaan-Nya adalah baik dan serasi, sehingga tidak
mungkin kebaikan dan keserasian itu mengantar kepada kekacauan
dan pertentangan. Dari sini bermula kedamaian antara seluruh
ciptaan-Nya.

Makhluk hidup diciptakan dari satu sumber: "Kami menciptakan
semua yang hidup dan air" (QS Al-Anbiya' [21]: 22). Manusia,
yang merupakan salah satu unsur yang hidup itu, juga di
ciptakan dari satu sumber yakni thin (tanah yang bercampur
air) melalui seorang ayah dan seorang ibu, sehingga manusia,
bukan saja harus hidup berdampingan dan harmonis bersama
manusia lain, tetapi juga dengan makhluk hidup lain, bahkan
dengan alam raya, apalagi yang berada di bumi ini. Bukankah
eksistensinya lahir dari tanah, bumi tempat dia berpijak, dan
kelak ia akan kembali ke sana?

Demikian ide dasar ajaran Islam, yang melahirkan keharusan
adanya kedamaian bagi seluruh makhluk.

Benar bahwa agama ini memerintahkan untuk mempersiapkan
kekuatan guna menghadapi musuh. Namun persiapan itu tidak lain
kecuali --menurut istilah Al-Quran-- adalah untuk
menakut-nakuti mereka (yang bermaksud melahirkan kekacauan dan
disintegrasi) (QS Al-Anfal [8]: 60). Peperangan --kalau
terjadi-- tidak dibenarkan kecuali untuk menyingkirkan
penganiayaan, itu pun dalam batas-batas tertentu. Anak-anak,
orang tua, kaum lemah, bahkan pepohonan harus dilindungi, dan
atas dasar ini, datang petunjuk Tuhan yang menyatakan:

Kalau mereka cenderung kepada perdamaian, maka
sambutlah kecenderungan itu, dan berserah dirilah
kepada Allah (QS Al-Anfal [8]: 61).

KERUKUNAN DAN DEMOKRASI

Biasanya yang paling berharga bagi sesuatu adalah dirinya
sendiri. Ini berarti yang paling berharga buat agama adalah
agama itu sendiri. Karenanya setiap agama menuntut pengorbanan
apa pun dari pemeluknya demi mempertahankan kelestariannya.
Namun demikian, Islam datang tidak hanya bertujuan
mempertahankan eksistensinya sebagai agama, tetapi juga
mengakui eksistensi agama-agama lain, dan memberinya hak untuk
hidup berdampingan sambil menghormati pemeluk-pemeluk agama
lain.

Jangan mencerca yang tidak menyembah Allah (penganut
agama lain) ... (QS Al-An'am [6): 108).

Tiada paksaan untuk menganut agama (Islam) (QS
Al-Baqarah [2]: 256).

Bagimu agamamu dan bagiku agamaku (QS Al-Kafirun [109]:
6)

Surat Al-Hajj (22): 40 menyatakan:

"Seandainya Allah tidak meno1ak keganasan sebagian
orang atas sebagian yang lain (tidak mendorong kerja
sama antara manusia), niscaya rubuhlah biara-biara,
gereja~gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan
masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama
Allah."

Ayat ini dijadikan oleh sebagian ulama, seperti Al-Qurthubi
(w. 671 H), sebagai argumentasi keharusan umat Islam
memelihara tempat-tempat ibadah umat non-Muslim. Memang,
A1-Quran sendiri amat tegas menyatakan bahwa,

Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan
seluruh manusia menjadi satu umat saja (QS Al-Nahl
[16]: 93).

Tetapi Allah tidak menghendaki yang demikian, karena itu Dia
memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih sendiri
jalan yang dianggapnya baik, mengemukakan pendapatnya secara
jelas dan bertanggung jawab. Di sini dapat ditarik kesimpulan
bahwa kebebasan berpendapat, termasuk kebebasan memilih agama,
adalah hak yang dianugerahkan Tuhan kepada setiap insan.

Yang dikemukakan ayat Al-Quran tersebut merupakan salah satu
benih dari ajaran demokrasi, hal mana kemudian akan nampak
dengan jelas dalam petunjuk-petunjuk Kitab Suci. Salah satu
yang dapat dikemukakan di sini adalah pengalaman Nabi Saw.
dalam peperangan Uhud serta kaitannya dengan ayat yang
memerintahkan musyawarah. Sejarah menginformasikan bahwa
ketika terdengar berita rencana serangan musuh-musuh Nabi Saw.
dari Makkah ke Madinah, Nabi Saw. berpendapat bahwa lebih baik
menunggu mereka hingga sampai ke kota Madinah. Namun mayoritas
sahabat-sahabatnya dengan penuh semangat mendesak beliau agar
menghadapi mereka di luar kota, yakni di Uhud. Karena desakan
itu, akhirnya Nabi menyetujui. Tetapi, ternyata, puluhan
sahabat Nab~ gugur dalam peperangan tersebut sehingga
menimbulkan penyesalan. Setelah pengalaman pahit mengikuti
pendapat mayoritas ini, justu Al-Quran turun memberi petunjuk
kepada Nabi Muhammad Saw., agar tetap melakukan musyawarah dan
selalu bertukar pikiran dengan sahabat-sahabatnya (baca QS Ali
'Imran [3]: 159).

Demikian terlihat kebebasan beragama, mengemukakan pendapat,
dan demokrasi, merupakan prinsip-prinsip ajaran Islam.

Atas dasar itu pula, kitab suci umat Islam mengakui kenyataan
tentang banyaknya jalan yang dapat ditempuh umat manusia.
Mereka diperintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (QS
Al-Baqarah [2]: 148), kesemuanya demi kedamaian dan kerukunan:

Allah memberi petunjuk melalui wahyu-Nya siapa yang
mengikuti keridhaan-Nya dengan menelusuri jalan-jalan
kedamaian (QS Al-Maidah [5]: 16).

Sekali lagi ditemukan bahwa kebhinekaan diakui atau ditampung
selama bercirikan kedamaian. Bahkan dalam rangka mewujudkan
kedamaian dengan pihak lain, Islam menganjurkan dialog yang
baik (QS Al-Nahl [16]: 125). Dan dalam dialog itu, seorang
Muslim tidak dianjurkan untuk mengklaim kepada mitra dialognya
bahwa kebenaran hanya menjadi miliknya.

Katakanlah, Kami atau Anda yang berada dalam kebenaran
atau kesesatan yang nyata (QS Saba' [34]: 24).

Bahkan lebih jauh dari itu Kitab Suci umat Islam mengajarkan
kata atau kalimat-kalimat dialog yang pada lahirnya dapat
dinilai "merugikan". Perhatikan terjemahan ayat berikut:

Kamu sekalian tidak akan diminta untuk
mempertanggungjawabkan dosa-dosa kami. Kami pun tidak
akan mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatan kalian.
(QS Saba' [34]: 25) .

Kita menamai perbuatan kita dosa, dan tidak menamakan
perbuatan mitra dialog non-Muslim sebagai dosa, tetapi
menyebutnya sebagai "perbuatan".

Perdamaian dan kerukunan yang didambakan Islam, bukankah yang
bersifat semu, tetapi yang memberi rasa aman pada jiwa setiap
insan. Karena itu, langkah pertama yang dilakukannya adalah
mewujudkannya dalam jiwa setiap pribadi. Setelah itu ia
melangkah kepada unit terkecil dalam masyarakat yakni
keluarga. Dari sini ia beralih ke masyarakat luas, seterusnya
kepada seluruh bangsa di permukaan bumi ini, dan dengan
demikian dapat tercipta perdamaian dunia, dan dapat terwujud
hubungan harmonis serta toleransi dengan semua pihak.

Demikian, sekelumit ajaran Islam. Kalau kenyataan di dunia
Islam berbeda dengan apa yang tersurat dalam petunjuk agama
ini, maka yang keliru adalah pelaku ajaran dan bukan ajarannya
itu sendiri. Sungguh tepat pernyataan Syaikh Muhammad Abduh,
"Al-Islam mahjub bil muslimin" (Keindahan ajaran Islam
ditutupi oleh kelakuan sementara umat Islam).

AGAMA ISLAM DALAM KEHIDUPAN MODERN

Berbicara tentang agama Islam dalam kehidupan modern, terlebih
dahulu perlu digarisbawahi keharusan pemisahan antara agama
dan pemeluk agama seperti ucapan Syaikh Muhammad Abduh di
atas.

Ajaran Islam tertutup oleh perilaku kaum Muslim.

Islam memiliki prinsip-prinsip dasar yang harus mewarnai sikap
dan aktivitas pemeluknya. Puncak dari prinsip itu adalah
tauhid. Di sekelilingnya beredar unit-unit bagaikan
planet-planet tata surya yang beredar di sekeliling matahari,
yang tidak dapat melepaskan diri dari orbitnya. Unit-unit
tersebut antara lain:

a. Kesatuan alam semesta. Dalam arti, Allah
menciptakannya dalam keadaan amat serasi, seimbang, dan
berada di bawah pengaturan dan pengendalian Allah Swt.
melalui hukum-hukum yang ditetapkan-Nya.

b. Kesatuan kehidupan. Bagi manusia ini berarti bahwa
kehidupan duniawinya menyatu dengan kehidupan akhirnya.
Sukses atau kegagalan ukhrawi, ditentukan oleh amal
duniawinya.

c. Kesatuan ilmu. Tidak ada pemisahan antara ilmu-ilmu
agama dan ilmu umum, karena semuanya bersumber dari
satu sumber yaitu Allah Swt.

d. Kesatuan iman dan rasio. Karena masing-masing
dibutuhkan dan masing-masing mempunyai wilayahnya
sehingga harus saling melengkapi.

e. Kesatuan agama. Agama yang dibawa oleh para Nabi
kesemuanya bersumber dari Allah Swt., prinsip-prinsip
pokoknya menyangkut akidah, syariah, dan akhlak tetap
sama dari zaman dahulu sampai sekarang.

f. Kesatuan kepribadian manusia. Mereka semua
diciptakan dari tanah dan Ruh Ilahi.

g. Kesatuan individu dan masyarakat. Masing-masing
harus saling menunjang.

Islam --dalam hal urusan hidup duniawi-- tidak memberi rincian
petunjuk, karena

Kamu lebih mengetahui tentang urusan duniamu (ketimbang
aku).

Demikian sabda Nabi Muhammad Saw. sebagaimana diriwayatkan
oleh Imam Muslim.

Dari prinsip-prinsip semacam di atas, seorang Muslim dapat
menyesuaikan diri dengan perkembangan positif masyarakatnya,
dan karena itu pula Islam memperkenalkan dirinya sebagai
"Agama yang selalu sesuai dengan setiap waktu dan tempat."

Kitab suci Al-Quran mempersilakan umat Islam untuk
mengembangkan ilmu, menggunakan akalnya menyangkut segala
sesuatu yang berada dalam wilayah nalar, yaitu alam fisika
ini. Namun harus disadari oleh manusia, bahwa jangankan alam
raya yang sedemikian luas, dirinya sendiri sebagai manusia
belum sepenuhnya ia kenal.

Islam tidak menghalangi umatnya untuk memperoleh kekayaan
sebanyak mungkin. Bahkan harta yang banyak dinamainya khair
(baik) dalam arti perolehan dan penggunaannya harus dengan
baik. Islam juga tidak melarang umatnya bersenang-senang di
dunia, hanya digarisbawahinya bahwa kesenangan duniawi
bersifat sementara, dan karena itu jangan sampai ia
melengahkan dari kesenangan abadi, atau melengahan dari
kewajiban kepada Allah dan masyarakat.

Umat Islam diperkenalkan oleh Al-Quran sebagai ummattan
wasathan (umat pertengahan) yang tidak larut dalam
spiritualme, tetapi tidak juga hanyut dalam alam materialisme.

Seorang Muslim, adalah memenuhi kebutuhannya dan mewarnai
kehidupannya bukan ala malaikat, tetapi tidak juga ala
binatang.

Hubungan seks dibenarkannya, tetapi karena manusia adalah
makhluk terhormat, yang terdiri dari ruhani dan jasmani maka
hubungan tersebut harus terjadi hubungan lahir dan batin, dan
karena itu ia harus dikukuhkan atas nama Tuhan, melalui
perkawinan yang sah menurut agama. Nabi Muhammad saw.
bersabda:

Kamu mengawini mereka (istri-istrimu) berdasarkan
amanat Allah dan berhak menggaulinya karena kalimat
(izin) Allah.

Manusia diakui sebagai makhluk yang amat mulia, dan jagat raya
ditundukkan Tuhan kepadanya. Ia diberi kelebihan atas banyak
makhluk-makhluk yang lain, tetapi sebagian kelebihan dan
keistimewaannya --material dan material-- diperoleh melalui
bantuan masyarakat.

Bahasa dan istiadat adalah produk masyarakatnya. Keuntungan
material, tidak dapat diraihnya tanpa partisipasi masyarakat
dalam membeli bagi pedagang, dan adanya irigasi walau
sederhana bagi petani, serta stabilitas keamanan bagi semua
pihak, yang tidak diwujudkan oleh seorang saja.

Kalau demikian, wajar jika hak asasinya harus dikaitkan dengan
kepentingan masyarakatnya serta ketenangan orang banvak.
Pandangan Barat yang menyatakan: "Anda boleh melakukan apa
saja selama tidak melanggar hak orang lain", tidak sejalan
dengan tuntutan moral Al-Quran yang menyatakan: "Hendaklah
Anda mengorbankan sebagian kepentingan Anda guna kepentingcan
orang lain."

Mereka (kelompok Anshar) mengutamakan (orang-orang
Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka
dalam kesusahan. Siapa yang dipelihara dari kekikiran
dirinya, mereka dalam kekikiran dunianya, mereka itulah
orang-orang beruntung (QS Al-Hasyr [59]: 9).

Demikian sekelumit pembahasan tentang agama.[]

----------------
WAWASAN AL-QURAN
Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.











Saat untuk Menyerah

Keran air di dapur bocor. Lalu diganti. Agar cukup panjang ke tengah wastafel, penjual keran menyarankan penyambungan pipa, kira-kira 5 cm. Saya nurut saja. Ternyata, jebol. Air tumpah ruah di dapur. Maka diputuskan membuang kembali sambungan pendek itu. Sulit ternyata, karena ulir penyambung dari pipa plastik itu rusak di bagian kunci pas yang kalah kuat bertemu dengan kunci pas dari besi.

Satu jam berusaha memperbaiki keran, saya putuskan menyerah. Waktu saya lebih penting buat mengerjakan hal lain. Urusan keran, serahkan ke tukang. Maka dipanggilah tukang, sambungan dibongkar paksa oleh dia (dengan dipecah-pecah), dan beres. Bayar 10 ribu, beres juga. Everybody is happy.

Jalanan macet. Antrian panjang ini menyisakan tanda tanya panjang. Sudah satu jam dalam guyuran hujan. Ada apa? Lajur sebelah kiri saya tampak lebih lancar. Maunya sih tertib, bertahan pada jalur mobil yang sekarang. Tapi?

Lalu saya putuskan pindah jalur ke kiri. Sedikit lebih cepat daripada kanan. Dan sampailah ke tempat penyebab kemacetan. Ternyata ada bagian jalan yang banjir, karena selokan yang meluap. Di bagian itu mobil tiga jalur berubah menjadi dua (mungkin satu) jalur. Kenapa sih mobil-mobil (yang lebih bagus daripada mobil saya) itu takut dengan air? Saya perhatikan banjir tidaklah terlalu dalam. Maka saya trabas saja banjir itu, dan selamat juga (memang tidak dalam, kenapa pada menghindari ya?). Mereka yang masih antri di jalur kanan tampaknya akan masih lama menderita dalam antrian karena hal konyol ini.

Kapan pindah jalur?

Dalam hidup ini kita sering menghadapi dilema untuk memilih antara gigih bertekun-tekun, atau banting setir pindah jalur kehidupan. Sesungguhnya seorang pengayuh becak yang bertekun-tekun mengayuh lebih keras dan lebih jauh, belum tentu nasibnya menjadi lebih baik. Kerja keras tidak cukup. Terkadang terus gigih juga berakhir menyesatkan. Kapan kita sebaiknya menyerah?

Ini sekedar prinsip sederhana. SEGERALAH MENYERAH bila METODE Anda GAGAL. Namun TERUSLAH GIGIH MEMEGANG TUJUAN.

Kita harus segera menyerah bila metode yang kita lakukan menunjukkan tanda-tanda kegagalan. Saat jalur macet, maka mungkin memang jalur tersebut (metode tersebut) menghadapi masalah (ada mobil mogok, lubang di jalan, banjir, pasar kaget). Jadi, jangan ragu untuk pindah jalur. Tapi kita tetap gigih memegang tujuan (yaitu kemana Anda akan pergi dengan mobil itu). Tujuan harus gigih dipertahankan, metode harus fleksibel. Terus ngotot dengan tujuan, segera menyerah dengan metode (yang gagal).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan :

1. Tujuan yang jelas (kita harus gigih memperjuangkannya)
2. Jangka waktu evaluasi (Jangan cepat menyerah dalam waktu pendek, jangan juga kukuh bertahan padahal jelas-jelas gagal. Berikan waktu yang cukup. Intuisi Anda bisa membimbing untuk hal itu.)
3. Terbuka terhadap metode alternatif. Metode bukanlah tujuan, dia hanya alat, jadi jangan terlalu ngotot menggunakan satu metode. Banyak jalan ke Roma.

Pada kasus keran air, tujuannya adalah keran air yang tidak bocor. Metodenya adalah dikerjakan sendiri. Setelah satu jam dikerjakan (lama waktu evaluasi) dan muncul masalah baru (sambungan yang rusak), maka sebaiknya menyerah dengan metode yang sedang dijalankan. Ganti metode lain (panggil tukang). Pada kasus kemacetan, pulang ke rumah adalah tujuan. Memilih jalur kanan adalah metode. Ketika metode menunjukkan kegagalan (sudah satu jam dalam antrian), maka segeralah pindah metode lain (jalur kiri yang lebih lancar).

Dalam kehidupan ini kita semua memilih jalur masing-masing. Bila Anda tak puas dengan kondisi sekarang, siapkah mental Anda untuk berpindah jalur? Jangan-jangan jalur yang sekarang Anda tempuh memang macet di depan.

* Sepia.blogsome.com *


Senin, 16 Juni 2008

Maju Atau diam sama sekali

Teman-teman.



Kita sering diingatkan bahwa selama masih hidup, maka roda kehidupan masih akan terus berputar. Kadang diatas, dan kadang dibawah. Kita ingin terus diatas. Namun, hidup memiliki kodratnya sendiri.Yang diperlukan hidup dari kita bukanlah menghentikan perputarannya, melainkan berlari bersamanya. Membawa roda itu menuju ketempat yang nilainya tinggi. Sebab,
ditempat yang tinggi, sekalipun bagian roda itu berada dibawah, tetap saja dia tinggi. Jadi, jika kita bisa memberikan derajat yang tinggi pada sang roda, maka berada dibagian bawah roda itu bukanlah masalah. Melainkan, seperti melodi indah dalam simponi naik dan turunnya irama sebuah orkestra. Itu hanya bisa terjadi jika kita terus berlari. Sebab, jika kita berhenti, maka kita menjadi terdiam seperti mati.



Pagi itu, embun masih enggan untuk beranjak pergi. Menutupi rumput tebal yang menghampar diseluruh permukaan padang golf yang menghijau. Hujan semalam menyisakan sunyi. Juga dingin yang memanjakan. Sementara burung-burung mulai sibuk bernyanyi tralala-trilili, tak seorangpun saya temui dipagi buta seperti ini. Kesendirian memberi ruang untuk menikmati semuanya tanpa ada yang menyela. Nyanyi riang para burung bergabung dengan gemuruh deburan ombak dikejauhan. Bersama suara derak renyah dari pergesekan antara alas sepatu dengan landasan semen disepanjang jogging tract yang saya telusuri. Benar-benar damai. Begitu membuai hingga tanpa terasa padang golf sudah berganti dengan bibir pantai yang terjal. Embun bergulat dengan geliat sinar mentari, namun keringat disekujur tubuh saya bercucuran tanpa kompromi. Tak ada dingin. Melainkan kehangatan yang memenuhi hati.



Sesampai diujung terjauh tebing itu, kita tidak perlu berlari lagi. Inilah ujung dunia itu. Tempat pertemuan antara muara sungai dengan tanah dimana kaki berpijak, dan lautan yang mendeburkan suara ombak. Tempat dimana kita bisa membenamkan diri didalam kedamaian. Tempat dimana lagu laut bersenandung merdu merayu kita agar mendekat. Hingga akhirnya berhadapan langsung dengan sang ombak. Berdiri diatas batu karang kehitaman yang berdiri tegak. Terpukau oleh sisa-sisa air pasang semalam. Terpikat oleh ikan-ikan kecil yang terperangkap disela-sela genangan. Siput-siput terpaku dalam bisu. Dan rumput-rumput laut menyajikan hamparan bak beludru.



Ketika saya melompat dari satu batu karang ke batu karang lainya, tiba-tiba saja ada sebuah kesadaran baru. Ternyata, tempat saya berpijak bukanlah benar-benar batu karang. Melainkan setumpuk kulit kerang yang mengeras, melapisi permukaan batu karang itu. Lama-lama, saya menyadari bahwa selama jutaan tahun alam telah menghidupi batu karang itu dengan sisa-sisa kulit kerang. Lalu mereka memosil. Dan akhirnya menjadi bagian tak terpisahkan dari struktur batu itu. Tapi, ada satu tanya nyaris tak berjawab dibenak saya; 'Mengapa alam begitu rajin mengumpulkan kulit kerang itu?' Dengan telaten membawanya ketempat itu. Dan teramat terampilnya menata kulit kerang itu sebegitu rapi. Tetapi, benarkah mereka melakukannya? Jika bukan, lantas siapa? Yang pasti, itu bukan perbuatan ikan-ikan. Bukan tindakan ombak yang bercipratan. Bukan pula nelayan. Siapa? Saya tidak tahu.



Semakin kuat memendam keingintahuan, semakin terkubur saya dalam rasa penasaran. Formasi itu terlalu indah untuk diabaikan. Hingga akhirnya, saya terdorong untuk mencongkel kulit kerang itu. Namun, tangan ini tak kuasa untuk membongkar batu karang. Dia terlalu tangguh. Terlampau kokoh untuk sekedar membuatnya goyah. Saya mencobanya sekali lagi, kali ini menggunakan sebongkah batu. Namun, kulit kerang itu tidak hendak lepas dari pelukan sang batu karang. Mereka begitu menyatu, hingga enggan dipisahkan. Saya memukulkan batu itu terlampau keras ketika salah satu kulit kerang terpecah. Padahal, saya ingin dia utuh. Bukan hancur seperti itu.



Namun, penyesalan saya berubah menjadi ketakjuban. Ternyata, dibalik kulit kerang yang pecah itu bersembunyi seonggok daging. Daging kerang. Ternyata, kerang-kerang yang saya anggap hanya sisa-sisa sebuah kehidupan itu sesungguhnya masih hidup. Ternyata, mereka bukan setumpuk cangkang. Melainkan sebuah spesies kerang yang hidup dengan cara menempelkan dirinya dibatu karang. Berapa lama mereka harus terpaku disitu? Seumur hidup. Sejak lahir, hingga menjemput kematian. Orang-orang di Bali menamakan spesies kerang itu 'kritip'. Yaitu, kerang yang menyerahkan diri kepada batu karang. Dan mereka menjadi bagian dari bertumbuh dan berkembangnya sang batu karang.



Saya tercenung. Memandang kearah laut yang teramat luas. Membayangkan bahwa angin telah mengantarkan sang ombak untuk menjelajah seluruh penjuru dunia. Mereka-reka bahwa para ikan sudah bepergian kesemua tepi bumi. Dan para kura mengembara kemana-mana. Sementara para kritip, hanya tinggal diam terpaku disitu. Tiba-tiba saja, saya menyadari, bahwa hidup kita seperti kritip. Terpaku pada sesuatu yang kita anggap sebagai kenyamanan. Menjadikan kita takut untuk menantang hidup. Meski seperti halnya samudera luas itu, hidup sungguh menyediakan berbagai macam peluang. Menyajikan banyak hal yang lebih baik daripada tempat dimana kita berada kini. Namun, kita enggan meninggalkan kenyamanan ini dan melintasi rintangan demi pencapaian kita yang berikutnya. Dan kita mengatakan; "sudahlah, saya sampai disini saja". Sehingga sang waktu yang telah menempuh perjalanan begitu jauh, hanya membawa kita ketempat yang sama. Tidak. Kita tidak boleh seperti itu lagi. Kita harus bersedia berhenti dari berhenti. Untuk kembali berlari. Dan terus berlari lagi.



Tiba-tiba saja saya teringat tentang jebakan zona kenyamanan. Comfort zone. Seolah tengah kembali diajarkan sang kritip. Dan begitulah pula manusia pada umumnya. Ketika kita sampai kepada sebuah tempat dimana kita merasa nyaman, maka kita menjadi enggan untuk beranjak dari tempat itu. Sehingga, gagasan tentang 'keluar dari zona kenyamanan' semakin terdengar seperti sebuah lelucon. Cobalah tengok, pencapain kita hari ini. Apakah masih sama dengan yang hari kemarin? Berbedakah dengan apa yang bisa kita wujudkan tahun lalu? Jangan-jangan, semuanya masih seperti yang dulu-dulu. Kita memang ikut penjelajahan sang waktu. Namun, kita hanya diam disitu. Padahal, hidup tidak pernah berhenti menawarkan banyak hal baru. Seperti samudera yang bersedia membawa kita mengembara keseluruh penjuru dunia. Tapi, karena kita terpesona dengan sang zona kenyamanan, maka kita memutuskan untuk berhenti. Kemudian menyerahkan diri, seperti sang kritip memasrahkan hidupnya kepada sang batu karang. Hingga tidak jelas lagi perbedaan antara hidup dengan mati. Sampai-sampai, kita ragu apakah kita ini masih hidup, atau sudahkah kita mati.



Zona kenyamanan juga mengisyaratkan kita tentang memberi nilai kepada hidup itu sendiri. Kita, merasa nyaman dengan perilaku-perilaku kita. Meskipun itu buruk, namun kita enggan meninggalkan keburukan itu. Walau tahu itu merugikan orang lain, tapi kita keberatan menghentikannya. Biar itu merendahkan diri, kita meneruskannya juga. Hingga kita berani berkata; "Mencari uang dengan cara curang saja sudah susah, apalagi melakukannya dengan kejujuran?" Kita percaya bahwa ombak dihadapan kita itu terlampau berbahaya. Jadi, kita memilih berdiam diri seperti sang kritip. Kita percaya bahwa menjadi orang jujur itu menyusahkan hidup, maka kita memilih terpenjara dalam kecurangan.



Memang, selama ini saya sering bertanya; mengapa orang tidak gampang untuk sadar? Ternyata sebenarnya mereka sadar. Seorang pencuri, sadar bahwa mencuri itu bukan tindakan yang baik. Seseorang yang mengambil uang bukan haknya sadar bahwa tindakannya melanggar norma-norma. Seseorang yang menindas orang lain sadar bahwa perbuatannya tidak mencerminkan nilai luhur dirinya sebagai seorang manusia. Namun, kita merasa bahwa tinggal selamanya dalam kubangan perbuatan-perbuatan itu sebagai cara teraman, dan ternyaman. Sebab, dengan begitu kita bisa mendapatkan banyak uang secara instan. Mudah. Dan melimpah. Sedangkan, jika meninggalkan cara itu, dan mulai berenang didalam ombak; tantangannya terlalu berat. Belum tentu kita bisa bertahan dalam terpaan gelombang kehidupan itu. Jangan-jangan, kita akan mati tenggelam. Jadi, mengapa kita harus meninggalkan kebiasaan-kebiasaan ini? Padahal, sang kritip mengatakan; "Kamu akan mati, jika berhenti dalam kubangan itu. Yang mati bukan dirimu. Tapi hatimu. Lalu hati itu memosil. Dan kemudian mengeras, serupa kerasnya batu karang......."










Siapa Sempurna siapa

Klaim paling mutakhir yang selalu kita dengungkan adalah; "Kita para
manusia adalah mahluk yang paling sempurna." Kita mengklaim diri
lebih cerdas dari keledai. Lebih beradab dari kadal. Dan lebih
berbudaya daripada buaya atau mahluk manapun sesama penghuni dunia.
Tetapi, apa sih yang sebenarnya menjadikan kita melampaui mahluk-
mahluk lain itu? Secara fisik, kita tidak lebih kuat dari gorila.
Kecepatan kita berlari juga kalah jauh dengan rusa. Diadu dengan
harimau? Wah, sudah pasti kita yang kalah. Lalu, apa yang menjadi
faktor keunggulan kita? Kita bilang; karena kita mempunyai akal.
Dengan berbekal akal itu kita bisa melampaui mahluk lain. Pesawat
terbang menjadikan kemampuan burung tidak terlampau istimewa. Mobil
menyebabkan macan tutul kalah cepat. Buldozer bukan tandingan badak.
Pertanyaannya kemudian adalah; apakah keunggulan itu semata-mata
hanya berhubungan dengan produk-produk akal belaka?

Salah satu film thriller favorit saya adalah Hellboy. Film itu
bercerita tentang mahluk dari neraka yang menyerupai manusia tetapi
berkulit merah menyala, lengkap dengan tanduk kokoh dan ekornya
yang panjang. Kekuatan fisik yang dimiliki Hellboy nyaris tidak
tertandingi, sehingga boleh dikatakan bahwa dia merangkum semua
kekuatan yang dimiliki oleh mahluk hidup yang ada dialam semesta.
Dengan semua kekuatan yang dimiliki itu kita tidak serta merta
mengakui mahluk seperti Hellboy mahluk yang sempurna. Karena belum
tentu dia berakal. Tapi tunggu dulu, Hellboy ternyata adalah mahluk
yang sangat cerdas. Itu menunjukkan bahwa dia punya akal. Bahkan
akalnya mengungguli kebanyakan `manusia modern'. Meskipun begitu,
tetap saja kita tidak mau mengakui dia sebagai mahluk yang sempurna.
Sebab, sekalipun dia lebih kokoh dari binatang dan memiliki akal;
namun bentuknya yang aneh itu menjadikan dia tidak layak disebut
sebagai manusia. Dia berekor. Dan bertanduk. Terlebih lagi wajahnya
tidak tampan. Dengan kata lain, kita bersikeras bahwa untuk menjadi
mahluk sempurna sesuatu harus benar-benar `menyerupai' manusia.

Dengan predikatnya sebagai pemegang kunci pintu neraka, Hellboy
memiliki segala syarat mutlak untuk menjadikannya mahluk jahat.
Sehingga selain ayah angkatnya, hanya ada beberapa orang saja yang
mengatahui betapa baik sesungguhnya dia. Betapa dia peduli pada
orang lain. Bersedia mengorbankan diri untuk menyelamatkan hidup
orang lain. Dan banyak hal lagi. Pendek kata, dibalik penampilan
anehnya itu; tersembunyi begitu banyak kebaikan tersembunyi. Sampai-
sampai agen rahasia John T. Myers berucap; "What makes man, a
man?". `Apa sih sesungguhnya yang menjadikan seseorang menjelma
menjadi manusia yang seutuhnya?' Mengapa begitu banyak manusia yang
memiliki fisik begitu sempurna, namun tidak mempunyai perangai
terpuji layaknya mahluk yang sempurna seperti klaimnya? Sedangkan,
Hellboy memiliki begitu banyak kebaikan hati dibalik penampilan
janggalnya.

Saya jadi teringat guru mengaji dikampung yang bercerita tentang
Sang Nabi. Beliau yang mulia berkata; "Aku diutus Tuhan untuk
menyempurnakan Akhlak ummat manusia". Apakah sesungguhnya akhlak
itu? Akhlak mempunyai tiga komponen utama. Pertama, Perilaku atau
tindakan. Literatur modern menyebutnya behavior. Kedua, sikap atau
yang sering disebut sebagai attitude. Mudah untuk menilai perilaku,
karena muncul dalam apa yang kita lakukan. Sedangkan sikap, lebih
kepada daya dorong dibalik tindakan atau perilaku kita. Kita
biasanya menyebut seseorang itu baik, jika tindakan perilakunya
baik, dan sikapnya baik. Namun, menurut Sang Nabi, itu belum menjadi
akhlak sebelum dilengkapi dengan komponen ketiga yaitu, kebersihan
hati. Sebab, kebersihan hatilah yang menjadi ukuran sesungguhnya
atas nilai dari segala sesuatu yang kita lakukan. Sebab, hati itu
merupakan pabrik niat.

Seseorang boleh saja bertutur kata baik. Berperilaku baik. Bersikap
baik. Namun, jika hatinya buruk, maka semua kebaikan itu tidak lebih
dari sekedar kedok belaka. Oleh karenanya, begitu banyak orang
berbuat kebajikan. Menyumbang ini dan itu. Menebar derma diseluruh
penjuru negeri. Namun, nilai sesungguhnya dari semua kebaikan itu
sangat bergantung kepada niatnya. Saya boleh melakukan kebaikan
kepada anda. Namun, jika dibalik kebaikan yang saya lakukan itu
tersimpan niat buruk didalam hati saya; maka semuanya tidak menjadi
kebaikan. Maka, benarlah kata Sang Nabi bahwa; "Sesungguhnya amal
setiap manusia itu sangat bergantung kepada niatnya". Dan niat
itulah yang menentukan penilaian Tuhan kepada amalan itu. Lalu,
sebenarnya niat itu apa? Mungkin sulit bagi kita untuk
mendefinisikannya secara akurat. Namun, dia sering menjelma
berupa 'bisikan hati'. Jadi, untuk mengetahui niat kita, cukuplah
mendengar apa yang dibisikkan oleh hati kita. Jika bisikan itu baik,
maka baiklah niat kita. Dan baik pulalah amal perbuatan kita.
Artinya, behavior dan attitude itu bukan sekedar topeng, melainkan
kesejatian aktualisasi diri yang sesungguhnya.

Hellboy memiliki itu semua. Sementara banyak manusia disekitarnya
yang tidak mempunyai unsur ketiga dari ahlak yang diajarkan Sang
Nabi itu. Padahal, beliau menekankan betapa pentingnya niat itu.
Jangankan niat yang benar-benar buruk. Sekedar bisikan hati untuk
mencari pujian saja sudah mengurangi nilai dari tindakan kita.
Misalnya, kita memberikan derma. Namun, hati kita berbisik; "supaya
mendapatkan pujian dari orang". Beliau menyebut yang seperti ini
sebagai 'ria'. Kemudian menggambarkan ria itu sebagai sesuatu yang
sangat merusak nilai kebajikan seseorang. "Seperti api yang memakan
kayu bakar," katanya. Artinya, lenyap sudah setiap nilai kebajikan
yang dilakukan; jika didalam hati kita ada bisikan berupa ria.
Apalagi jika suara yang terdengar dari dalam hati kita itu berupa
niat-niat buruk. Sudah pasti kita tidak akan sampai kepada
kesempurnaan yang kita agung-agungkan itu. Karena akal, bukanlah
satu-satunya prasyarat menuju keutuhan diri kita sebagai manusia.
Sebaliknya, kebersihan hati memberikan peluang bagi kita untuk
menjadi manusia yang sempurna. Sebab, "Apa yang ada didalam hati
kitalah the one that makes man like us a man".










Mari kita Ingat kematian

Oleh Ihsan Tandjung

Sesungguhnya di antara hal yang membuat jiwa melantur dan mendorongnya kepada berbagai pertarungan yang merugikan dan syahwat yang tercela adalah panjang angan-angan dan lupa akan kematian. Oleh karena itu di antara hal yang dapat mengobati jiwa adalah mengingat kematian yang notabene merupakan konsekuensi dari kesadaran akan keniscayaan keputusan Ilahi, dan pendek angan-angan yang merupakan dampak dari mengingat kematian. Janganlah ada yang menyangka bahwa pendek angan-angan akan menghambat pemakmuran dunia.
Persoalannya tidak demikian, bahkan memakmurkan dunia disertai pendek angan-angan justeru akan lebih dekat kepada ibadah, jika bukan ibadah yang murni.

Rasulullah saw bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

“Orang yang cerdas ialah orang yang mengendalikan dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah kematian.” (HR Tirmidzi)

Persiapan untuk menghadapi sesuatu tidak akan terwujud kecuali dengan selalu mengingatnya di dalam hati, sedangkan untuk selalu mengingat di dalam hati tidak akan terwujud kecuali dengan selalu mendangarkan hal-hal yang mengingatkannya dan memperhatikan peringatan-peringatannya sehingga hal itu menjadi dorongan untuk mempersiapkan diri. Kepergian untuk menyambut kehidupan setelah kematian telah dekat masanya sementara umur yang tersisa sangat sedikit dan manusiapun melalaikannya.

اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ

“Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).” (QS Al-Anbiya 1)

Orang yang tenggelam dengan dunia, gandrung kepada tipu-dayanya dan mencintai syahwatnya tak ayal lagi adalah orang yang hatinya lalai dari mengingat kematian; ia tidak mengingatnya bahkan apabila diingatkan ia tak suka dan menghindarinya. Mereka itulah yang disebutkan Allah di dalam firman-Nya:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Katakanlah, "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Al-Jumu’ah 8)

Kemudian manusia ada yang tenggelam ke dalam dunia, ada pula yang bertaubat dan ada pula yang arif.

Pertama: adapun orang yang tenggelam ke dalam dunia, ia tidak mengingat kematian sama sekali. Jika diingatkan ia mengingat semata-mata untuk menyesali dunianya dan sibuk mencelanya. Baginya, mengingat kematian hanya membuat dirinya semakin jauh dari Allah.

Kedua: Adapun orang yang bertaubat, ia banyak mengingat kematian untuk membangkitkan rasa takut dan khawatir pada hatinya lalu ia menyempurnakan taubat dan kadang-kadang tidak menyukai kematian karena takut disergap sebelum terwujud kesempurnaan taubat dan memperbaiki bekal. Dalam hal ini ia dimaafkan dan tidak tergolong ke dalam sabda Nabi saw:

مَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ

“Barangsiapa membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah membenci pertemuan dengannya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Karena sesungguhnya ia tidak membenci kematian dan perjumpaan dengan Allah, tetapi hanya takut tidak dapat berjumpa dengan Allah karena berbagai kekurangan dan keteledorannya. Ia seperti orang yang memperlambat pertemuan dengan kekasihnya karena sibuk mempersiapkan diri untuk menemuinya dalam keadaan yang diridhainya sehingga tidak dianggap membenci pertemuan. Sebagai buktinya ia selalu siap untuk menemuinya dan tidak ada kesibukan selainnya. Jika tidak demikian maka ia termasuk orang yang tenggelam ke dalam dunia.

Ketiga: Sedangkan orang yang ‘arif, ia selalu ingat kematian karena kematian adalah janji pertemuannya dengan kekasihnya. Pecinta tidak akan pernah lupa sama sekali akan janji pertemuan dengan kekasihnya. Pada ghalibnya orang ini menganggap lambat datangnya kematian dan mencintai kedatangannya untuk membebaskan diri dari kampung orang-orang yang bermaksiat dan segera berpindah ke sisi Tuhan alam semesta. Sebagaimana diriwayatkan dari Hudzaifah bahwa ketika menghadapi kematian, ia berkata:
“Kekasih datang dalam kemiskinan, semoga tidak berbahagia orang yang menyesal. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa kemiskinan lebih aku cintai dari kekayaan, sakit lebih aku cintai dari kesehatan, dan kematian lebih aku cintai dari kehidupan, maka permudahlah kematian atas diriku agar segera dapat berjumpa dengan-Mu”

Jadi, orang yang bertaubat dimaafkan dari sikap tidak menyukai kematian sedangkan orang yang ‘arif dimaafkan dari tindakan mencintai dan mengharapkan kematian. Tingkatan yang lebih tinggi dari keduanya ialah orang yang menyerahkan urusannya kepada Allah sehingga ia tidak memilih kematian atau kehidupan untuk dirinya. Apa yang paling dicintai adalah apa yang paling dicintai kekasihnya. Orang ini melalui cinta dan wala’ yang mendalam berhasil mencapai maqam taslim dan ridha, yang merupakan puncak tujuan. Tetapi bagaimanapun, mengingat kematian tetap memberikan pahala dan keutamaan. Karena orang yang tenggelam ke dalam dunia juga bisa memanfaatkan dzikrul maut untuk mengambil jarak dari dunia sebab dzikrul maut itu membuat dirinya kurang berselera kepada kehidupan dunia dan mengeruhkan kemurnian kelezatannya. Setiap hal yang dapat mengeruhkan kelezatan dan syahwat manusia adalah termasuk sebab keselamatan. Rasulullah saw bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ

“Perbanyaklah mengingat penghancur berbagai kelezatan, yaitu kematian.”
(HR Tirmidzi, Nasaa’I dan Ibnu Majah)

Artinya, kurangilah berbagai kelezatan dengan mengingat kematian sehingga kegandrungan kamu kepada berbagai kelezatanterputus lalu kamu berkonsentrasi kepada Allah, karena mengingat kematian dapat menghindarkan diri dari kampung tipudaya dan menggiatkan persiapan untuk kehidupan akhirat, sedangkan lalai akan kematian mangakibatkan tenggelam dalam syahwat dunia, sabda Nabi saw:

تحفة المؤمن الموت

“Hadiah orang mu’min adalah kematian.” (HR Thabrani dan al-Hakim)

Nabi saw menegaskan hal ini karena dunia adalah penjara orang mu’min, sebab ia senantiasa berada di dunia dalam keadaan susah mengendalikan dirinya, menempa syahwatnya dan melawan syetannya. Dengan demikian, kematian baginya adalah pembebasan dari siksa ini, dan pembebasan tersebut merupakan hadiah bagi dirinya. Nabi saw bersabda:

الموت كفارة لكل مسلم

“Kematian adalah kafarat bagi setiap muslim.” (HR al-Baihaqi)

Yang dimaksudnya adalah orang muslim sejati yang orang-orang muslim lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya, yang merealisasikan akhlaq orang-orang mu’min, tidak terkotori oleh berbagai kemaksiatan kecuali beberapa dosa kecil, sebab kematian akan membersihkannya dari dosa-dosa kecil tersebut setelah ia menjauhi dosa-dosa besar dan menunaikan berbagai kewajiban. Sebagian kaum bijak bestari menulis surat kepada salah seorang kawannya:
“Wahai saudaraku hati-hatilah terhadap kematian di kampung ini sebelum kamu berada di sebuah kampung di mana kamu berharap kematian tetapi tidak akan mendapatkannya.”









Bankit

Semangat harus tetap kita pelihara dalam diri kita. Ia ibarat darah dalam hidup manusia, yang merangsang segenap anggota tubuh untuk beraktivitas. Penyakitnya adalah lemah semangat yang dikarenakan adanya kendala dan hambatan dalam beraktivitas. Suatu kondisi yang sebenarnya wajar terjadi dalam diri seseorang, namun jika kelamaan akan berdampak buruk.

Obat lemah semangat adalah motivasi diri. Motivasi yang bersandarkan dari dalam diri kita sendiri untuk bekerja dan berbuat semaksimal mungkin. Jika kita tergantung pada orang lain atau lingkungan untuk memotivasi kita, maka motivasi yang muncul tidak akan sampai pada tingkat “menggebu-gebu”. Kalaupun sampai pada tingkat “menggebu-gebu” sifatnya amat situasional dan temporer, tergantung pada stimulus lingkungan. Tidak bisa menjadi semangat yang langgeng dan lama.

Lakukanlah visualisasi. Visualisasi adalah upaya untuk membayangkan tujuan dengan sejelas-jelasnya dan sedetail mungkin, sehingga seolah-olah tujuan yang kita inginkan telah terwujud. Seperti mimpi yang kita alami ketika tidur. Seolah-olah mimpi itu nyata terjadi pada kita

Bertanggung jawablah akan keadaan. Karena tanggung jawab membuat seseorang merasa ada beban yang harus dipikulnya. Beban berupa amanah untuk melakukan sesuatu. Beban inilah yang membuat ia termotivasi untuk melakukan sesuatu.

Buatlah setiap suasana menjadi se-nyaman mungkin. Bila Anda lakukan sesuatu yang Anda sukai atau Anda merasa nyaman melakukannya, pasti Anda termotivasi.

Sudah merupakan fitrah manusia bahwa kita akan bersemangat melakukan sesuatu yang kita sukai. Kita akan termotivasi mengerjakan sesuatu bila kita merasa nyaman dan senang melakukannya. Itulah sebabnya para manajer perusahaan berusaha membuat karyawannya menyenangi pekerjaan yang mereka lakukan. Berbagai upaya mereka lakukan agar karyawan merasa nyaman melakukan pekerjaannya..

Bergeraklah (Move). Seringkali kita mengalami bahwa semangat kerja justru muncul setelah kita mulai bekerja. Bukan sebelum mulai bekerja. Sebelum memulai pekerjaan, kita merasa malas mengerjakannya. Kita merasa tidak mood (gairah) untuk bekerja. Rasa enggan itu terus menggelayuti kita sampai akhirnya kita memaksakan diri untuk bekerja. Pertama-tama terasa berat untuk memulai pekerjaan tersebut, tapi lama kelamaan keterpaksaan itu hilang. Malah berganti dengan perasaan senang dan mudah melakukannya. Sampai akhirnya kita malah asyik dan “tenggelam” dengan pekerjaan tersebut. Bahkan mungkin sampai lupa waktu dan makan.










Positive Thinking Attitude

Positive Thinking Attitude

Oleh : Peter Lim

"Our attitudes control our lives. Attitudes are a
secret power working twenty-four hours a day, for good
or bad. It is of paramount importance that we know how
to harness and control this great force" Tom Bland

Realitanya, optimal tidaknya suatu hasil yang ingin
dicapai, kitalah penentunya. Tetapi tidak semua orang
"mampu" menerima kerealitaan ini atau mau
menyadarinya. Umumnya, alih alih menyadari atau
menerima kerealitaan ini, seseorang lebih cenderung
menyalahkan atau menuding pihak - pihak lain atas
kekurangberuntungan yang dialami. Akhirnya, bukannya
kondisi konstruktif yang diraih tetapi adalah
sebaliknya yaitu destruktif.


Orang yang bertipe demikian, sampai kapanpun tidak
akan bisa memperbaiki "performance" atau potensinya.
Seyogianya, haruslah disadari bahwa apapun kondisi
yang terjadi atau keadaan apapun yang berlaku,
penyebabnya dan bukanlah orang lain. Tetapi adalah
diri sendiri. Menyadari akan kerealitaan ini, sudah
seyogianya kapan dan dimanapun berada, sikap hidup
positif senantiasa dipertahankan. Caranya, tiada lain
adalah dengan memiliki :
STANDARD DIRI, mis. :
Pekerjaan di hari ini, tidak akan dikerjakan untuk
keesokan harinya. Atau pekerjaan hari ini, haruslah
tuntas di hari ini juga.
Apapun program kerja yang direncanakan, siapnya
haruslah "on time".
Tidak akan lari dari kenyataan dan senantiasa
bertanggung jawab terhadap apapun yang telah
dikerjakan atau didelegasikan.
Senang menerima tantangan, pantang menyerah dan
berkeyakinan diri yang mantap serta kokoh.
Tidak akan tergoyahkan, baik dikala dicela maupun
dipuji.
Tidak diskriminasi dan berwawasan universal.
KERJA KERAS. Yang dimaksud dengan kerja keras adalah
kerja keras dalam batas - batas yang tegas dan jelas
sehingga menghasilkan hasil yang optimal dan
berkwalitas. "Do a little more each day than you think
you possibly can" Lowell Thomas
3. CEKATAN. Apapun yang dikerjakan, baik kwantitas
maupun kwalitasnya, haruslah senantiasa baik dan
progresif. "Ability is what you're capable of doing.
Motivation determines what you do. Attitude determines
how well you do it" Lou Holtz
EMOSI TERKONTROL. Baik dalam kondisi senang maupun
susah, emosi terkontrol dengan baik sehingga apapun
kebijaksanaan yang diterapkan, arahnya adalah
konstruktif. Logikanya, emosi yang tidak terkontrol,
dampaknya adalah destruktif. Karena disaat tersebut,
yang paling dominan berperanan adalah hal - hal yang
arahnya irrasional. "Emotion turning back on itself,
and not leading on to thought or action, is the
element of madness" John Sterling
PANDANGAN OPTIMIS, misalnya :
Where there is a will, there is a way
While there is a life, there is a hope.
Realitanya, pandangan yang optimis sangatlah
signifikan kontribusi dalam pencapaian kesuksesan.
Contoh kasus, jika si A optimis bahwa produknya akan
mudah diserap oleh pasar maka kesuksesanlah buahnya.
Tetapi jika sebaliknya maka sampai kapanpun juga,
produknya akan tetap menumpuk di gudang. "An optimist
sees an opportunity in every calamity; a pessimist
sees a calamity in every opportunity" Winston
Churchill
MORAL BAIK, yang mencakupi :
Tidak melakukan tindakan yang illegal, baik yang
dibuat oleh pemerintah maupun yang berlaku pada adat
istiadat setempat.
Tindakan apapun yang diperbuat, tidak merugikan atau
menyengsarakan orang lain.
Apapun yang dilakukan, semuanya adalah legal, yang
selain menguntungkan diri sendiri tetapi juga orang
lain.
Suka dan senang melakukan perbuatan perbuatan terpuji,
misalnya : beramal.
Ramah tamah, sopan dan jujur kepada siapapun juga.
"The personal life deeply lived always expands into
truths beyond itself" Anais Nin
BIJAKSANA, misalnya :
Apapun yang dilakukan, dasarnya adalah netral dan adil
serta tidak merugikan pihak yang manapun juga.
Setiap tutur kata dan tindakan badan jasmani, arahnya
adalah positif, yang tanpa adanya batasan batasan
etnis, agama, suku dan lain sebagainya.
Apapun yang dilakukan, dampaknya adalah positif, yang
selalu memberikan ketenangan, keteduhan, kedamaian dan
ketentraman.
Mampu dan mau menerima apapun kerealitaan yang terjadi
serta mengevaluasinya.
TEPAT JANJI. Setiap ungkapan yang diutarakan, selalu
ditepati. Baginya, yang namanya janji adalah hutang
dan sudah seharusnya dilunasi.