Tampilkan postingan dengan label Nglenggem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nglenggem. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Agustus 2009

Geser Dong

Ada seorang bapak yang sedang berkunjung ke rumah anaknya yang baru
saja menempati rumah baru. Pagi itu sang bapak menikmati terbitnya
matahari pagi. Ternyata ada pohon yang cukup besar menghalangi
pandangannya. Sang bapak memanggil anaknya dan mengatakan, 'nak tolong
tebang saja pohon ini sebab menghalangiku menikmati indah sinar
matahari pagi.'

'Bapak, kenapa harus dipotong? Bukankah bapak cukup menggeser tempat duduk saja,' kata anaknya.

Sang bapak menggeser tempat duduknya dan terlihat matahari pagi, 'Oh ya..kamu benar nak,' jawabnya.

Begitulah kita seringkali beranggapan masalahnya ada diluar tanpa
berani mengatakan sebenarnya masalahnya ada di dalam diri kita sendiri
yaitu cara berpikir kita. Cara kita memandang masalah sebenarnya sumber
dari masalah. Menggeser sedikit cara pandang kita berarti menyelesaikan
masalah.Ä€ Seperti cerita diatas, sang bapak tidak perlu menebang pohon,
akan butuh berapa banyak biaya yang dikeluarkan sementara hanya dengan
menggeser tempat duduk masalahnya menjadi selesai.

Itulah sebabnya cara pandang seseorang merupakan cerminan dari
kehidupan yang dijalaninya. cara pandang yang sehat, maka akan membuat
perkataan kita menjadi sehat. Melalui perkataan yang sehat dan baik,
maka akan timbul tindakan yang baik danĀ sehat. Melalui tindakan yang
baik akan tercipta kebiasaan yang baik dan sehat. Dan melalui kebiasaan
yang baikĀ inilah akan menentukan hidup sehat dalam diri kita.

Jadi menjaga pikiran agar senantiasa berprasangka baik kepada orang
lain, bersyukur pada malam hari ketika menjelang tidur, tidak lupa pula
mendoakan untuk semua orang maka kebahagiaan akan melimpah di dalam
hati kita dan membuat tubuh kita menjadi bugar dan sehat dipagi hari.









Selasa, 06 Januari 2009

Palestina bersabarlah

Bangsat itu namanya Zionis israel yang mengatasnamakan penghancuran teroris demi untuk membantai warga palestina, media massa iktu membenarkan hal tersebut baik itu media massa luar negeri maupun dalam negeri, mereka lebih menggunakan kata hammas dari pada rakayat palestina kenapa ?

Seruan dunia kepada bangsat israel untuk menghentikan serangan ke palestina tidak digubris, mereka berdalih kalau yang mereka serang adalah kantong-kantong hammas dan PBB pun mengiyakannya.
Negara arab dan negara islam lainnya hanya bisa mengutuk, dan mengecam kalau saya bilang meraka adalah anggauta NATO (No Action Talk Only) termasuk Indonesia. yang diperlukan sekarang adalah bantuan untuk palestina baik bantuan obat, makanan, senjata, kalau perlu bantuan pasukan untuk menyerang balik ke israel.
Perang ini memang tidak akan berakhir dengan cepat bahkan mungkin sampai kiamat, tapi zionis yahudi bani israel pasti akan kalah dengan meregang nyawa

Senin, 27 Oktober 2008

Mencari Tuhan

Kemarin sewaktu aku pulang dari LT3 prudential di gedung kosgoro aku naik bus mayasari sari bakti
jurusan Blok M - Cikarang, emang ngga biasanya aku pulang LT langsung buru - buru cari mobil
tapi karena kulihat langit makin gelap dan kebetulan juga jakarta habis hujan ya mending aku cepet - cepet
cari kendaraan. Pikirku kalau sudah di kendaraan mau hujan ya seterah.

Akhirnya gerimis mulai turun cemas juga sih, aku nunggu di seberang halte busway bung karno, dan akhirnya
hujan turun juga dan pas mayasari 121 muncul. ya akhirnya dapat juga kendaraan. Singkatnya setelah naik
aku langsung cari tempat duduk yang pas biar bisa tidur, dan benar akupun tertidur.

Sedang asyiknya tidur tiba - tiba kaget dan terbangun, suara petir itu ternyata datang dari mulut seorang seniman
sastra jalanan. saya coba dengerin sastra yang sedang dia bawakan, saya pikir isinya sangat menyentuh tentang
pencarian tuhan.

saya berpikir seandainya hal itu bukan diungkapkan melalui seorang pengamen melainkan oleh seorang
ulama atau pemuka agama, saya yakin penumpang bisa akan menangis, tapi kenyataannya lain padahal isinya
adalah benar - benar menyentuh.

Mungkin kalau kita jujur, kapan sih kita benar - benar paham dan percaya akan adanya tuhan ????? kita bilang kita
percaya tuhan, tapi kenyataannya kita sering melakukan hal - hal yang jelas - jelas dilarang tuhan. Kita mengaku
beragama tapi lebih banyak karena keturunan. kita lebih takut miskin dari pada takut kepada tuhan, kita lebih senang
mendekati atasan dari pada mendekati tuhan. Lalu apa maksudnya kita percaya akan tuhan ???

Kita tahu hukuman akan amarah tuhan lebih besar dan lebih menakutkan dari pada hukuman negara maupun atasan kita
tapi kenapa kita tidak pernah merenung agar jiwa kita bisa sesekali benar - benar bertuhan.

Senin, 21 Juli 2008

The Muslim Role in Western Civilization

by David Shasha

Michael Hamilton Morgan, Lost History: The Enduring Legacy of Muslim Scientists, Thinkers and Artists, National Geographic Books, 2007

Beginning in the 19th century, European civilization not only surpassed the world of the Middle East in military and technological terms, but began to revisit the way that the history of its own cultural development took place. Over the course of the first post-Roman centuries, Europe had progressively lost the massive knowledge base that had been built during the hegemony of Greek and Latin thinkers and scientists. The loss of this knowledge was a gradual development that was caused by a combination of a Christian indifference to the material world and the debilitating invasions of barbarian tribes into what was once the mighty Roman Empire.

At the very time that Europe was descending into what has been called its “Dark Ages,” a new upstart civilization was growing in the Arab world. The emergence of Islamic culture at the very time that Roman civilization was being eviscerated by Christians and barbarians drew not only from the ethical and ritual traditions of the older monotheistic faiths to which the religion felt a keen allegiance, but as the political and military scope of the Muslim conquests grew, Islam began to adopt and adapt the Greco-Roman culture in new and often challenging ways.

Islam was not simply a religion; it was a political system, a philosophical system, a scientific system and much else. As Islam developed, it challenged those who lived in the Middle East and other areas that were conquered in the first centuries of Muslim warfare to raise their own levels of cognition and intellectual acumen. In the case of Jewish civilization, a classical rabbinic culture as enshrined in the Mishnah, Talmud and Midrashic literatures began to speculate on new and different subjects and to rethink assumptions that were held dear in past generations.

This Jewish rereading of its classical literary heritage was first articulated in the voluminous writings of Se’adya Ga’on (882-942) and came to formal perfection in the encyclopedic studies of Moses Maimonides (1135-1204). The template created by these Arab Jewish rabbis was one that was to form the basis of the Sephardic Jewish tradition throughout the ages.

It was the learning of the Arab Muslims that brought about this massive paradigm shift in world civilization.

Going back to the 19th century, we see the emergence of a base European xenophobia that sought to co-opt the gains of the past that had been transmitted in places like Toledo, Baghdad, Cairo, Damascus, Isfahan and Samarkand and generate a myth of European Renaissance and Enlightenment oblivious to the way in which it had inherited the riches of what the historian Marshall Hodgson has termed the “Islamicate” civilization. This myth was propounded in the context of a European imperialism that, along the lines of the thought of German philosopher G.W.F. Hegel, saw national cultures as discrete markers of a cultural spirit that in the case of Western Europe drew from a Greco-Roman inheritance.

How this inheritance came to take shape was never really questioned. The many Arabic loan-words and cultural borrowings were left unexamined. And not only this – Europe was itself embarking on an imperial enterprise that would bring countries like France, England and Russia into conflict with the Eastern world of the Ottoman Empire and Indian civilization.

In his seminal work Orientalism the scholar Edward Said clearly and rationally explained the ways in which the Western denial of linear history took shape. Drawing from their imperial consciousness, the Europeans not only suppressed knowledge of the Arab role in Western civilization, but found time to demonize the Arabs in a way that caricatured their history, customs and culture.

In the wake of Said’s pioneering work there has been a good deal of discussion over the ways in which Orientalism functions in our culture. In spite of excellent work done by historians such as Albert Hourani and Philip Hitti, a school of Orientalists led by Bernard Lewis have attempted to ensnare the Arab civilization and show it as corrupt, despotic and ignorant. Such a scholarship has proven to be immensely influential not only in the world of Jewish studies and Zionist polemics, but also in the general culture of Western intellectuals.

Contemporary popular studies of Arab-Muslim civilization have been few and far between. With the publication of Maria Rosa Menocal’s The Ornament of the World in 2002, Richard Rubenstein’s Aristotle’s Children in 2003, and Chris Lowney’s A Vanished World in 2005, the Anglophone reader has recently been treated to a rare glimpse into the complex polyglot world of Medieval Islamicate culture; a world that had sadly been marked as subversive in the works of Bernard Lewis and in the complementary studies of like-minded writers such as Daniel Pipes, Norman Stillman, Bat Ye’or and Robert Spencer.

The struggle over the meaning of Arab civilization has become a central issue for Sephardic Jews. Over the course of many centuries Sephardim have had to withstand the constant attacks of their Ashkenazi brethren who have created an endless number of impediments preventing the complete integration of the Arabo-Islamic culture into Jewish tradition. From the moment of the anathema written prohibiting the study of Maimonides’ scientific and philosophical works in 13th century Spain – the result of the pressure imported into Iberia through the German and French rabbis of the school of the Tosafot and Rashi – this battle has been a central part of Sephardi life.

By the 19th century a number of trends had developed that made this conflict even more pronounced. With the emergence of a new class of Jewish scholars known in Hebrew as “Maskilim,” in English “Enlightened,” models of pluralist culture were sought after and much prized. At the same time there was an ever-dangerous Orthodox reaction to the liberal ideas of Ashkenazi reformers. All of this was taking place in the larger context of European colonialism and imperial conquest.

Sephardim were caught within the complex forces that had caused a massive collapse in the Middle Eastern world. The progressive deterioration of this society had brought with it a fierce set of attacks on the old Judeo-Arab world of science, philosophy and poetry that had once marked its genius. Western Jews began to see the Middle East – its Jews included – as backward and primitive. Such a thing could only be possible in the wake of a suppression of history. In point of fact, Westerners came to the Middle East and insisted that its land and its populations were invisible from a cultural point of view. It must not be forgotten that Zionism was born in this Eurocentric cauldron. The many centuries of cultural progress that had marked the Arab world were washed away at almost a moment’s notice.

With the publication of Michael Hamilton Morgan’s important new study Lost History this cultural confusion is taken into account. Working from the seminal model of the Arab-Muslim genius, Morgan recounts the details of a history that has been obscured in the wake of inter-cultural hatreds and political competition. In his words:

Most of us are unaware of the details of Muslim history because of language difficulties, the passage of many centuries, a blur of unfamiliar names, places, and events, a triumphalist Eurocentric narrative of the Renaissance and later advances, orthodox Muslim excision of unorthodox Muslim thinkers, and the burning of books and the destruction of libraries. (pp. xv-xvi)

In the midst of much political controversy and the purported “clash of civilizations” that has been mooted by scholars with a profoundly debilitating view of the West and the Muslim world, Morgan has chosen to do something so simple that it is a wonder that it has not been done more often by others: to present the historical record of Arab-Muslim scientific achievement and the substantial way that it has made us what we are today.

In a Jewish world that has rejected the place of the Arabo-Sephardim and instituted a form of cultural imperialism that reflects a purely Ashkenazi orientation, we find this history completely absent from the pedagogical agenda.

While veneration for a figure like Maimonides is repeated ad nauseum like some kind of demonic mantra by those who not only reject his ideas and culture but who actively prevent its study by attacking its intellectual premises, children in Hebrew schools – Sephardi and Ashkenazi alike – are not presented with this brilliant history. Having imbibed the values of an Ashkenazi-Zionist worldview, a place where Arabs have been marked as the debased Other, contemporary Jewish culture has been at the very forefront of deflecting us from a simple and rational understanding of this history. In fact, when we look at the Sephardic institutions that currently exist – Synagogues, Yeshivas and other cultural entities – we see Ashkenazim in charge; even when a Sephardi leads a Sephardic institution they have generally been trained in the ideological mindset of the Ashkenazim and tend to reject Sephardic culture.

So what is it that the world of the Arab East presents to us?

As Morgan expertly lays it out, the Arab world entered the world of European civilization as military victors and rapidly expanded their presence in this world not simply as conquerors or colonists, but as assimilators of the culture of the past. In a succinct description of the early Muslim philosophers known as the Mutazilites, Morgan states:

The Mutazilites, with the caliph as their patron and champion, believe that reason is the key to wisdom and God. This is the result both of indigenous strands of Islamic thought, as well as elements of Greek philosophy. Greek-Hellenic knowledge comes into ninth-century Islam from three sources: The Persian aristocracy who play an important role as administrators in the Abbasid period; Christian physicians and theologians, who pursue Greek logic; and the pagan Sabians of Harran in northern Iraq, an ancient Semitic group whose astral religion connects them to Hellenistic astrology, astronomy, and Hermeticism. (pp. 51-52)

We clearly see here the strategies that the Arab-Muslims used to generate the new learning: with an ecumenical religion that sought to maintain cultural pluralism rather than monolingualism the Arabs developed a strategy that permitted other religions and ethnic groups to maintain their own autonomy under Arab rule. This cultural pluralism permitted the other religious communities to partake in and contribute to the new culture.

The Arabs were open minded enough to understand the crucial need for such contributions. In essence, the new culture was an advanced form of cultural syncretism which led to an intensely dynamic and fruitful symbiosis.

One of the first places where this symbiosis took place was Baghdad:

With the House of Wisdom in the ninth and tenth centuries, Abbasid Baghdad will reach the pinnacle of its intellectual influence, filling out the dream of al-Mansur and Haroun al-Rashid to make it the true center of the world in every way. Out of his predawn dream and love of intellect, al-Mamum will also lay the foundation for other discoveries. On the plains of Iraq will rise not one but two stellar observatories, challenging his astronomers not only to read the hidden message of space but to better map and document it. For his astronomical support, the world will later name one of the craters of the moon for him, al-Mamun. (p. 57)

Over the course of this brilliantly written book Morgan recounts the names and deeds of many Arab figures whose names are now unknown in the West. There is al-Khwarizmi who will establish the foundations of modern mathematics:

Until about the 16th century, 700 years after his death, the Europeans will honor and dignify everything they postulate with the concluding footnote, “dixit algorithmi,” or “so says al-Khwarizmi,” meaning that they have built their own calculations on faith in the teachings of the Persian. His translated works will be the core university textbooks in Europe and the Muslim world. (p. 91)

The very word “algorithm” that we use in our mathematics is an Anglicization of the name of this Persian Muslim who laid the foundations of this knowledge. Though most, if not all, who use the term have no idea where it comes from, Morgan is at pains to reconstruct the way in which such scholars set the table for our way of seeing and doing things.

An equally important figure in science is Ibn al-Haytham whose investigations into optics also presage the breakthroughs of the modern period:

Ibn al-Haytham tries to figure out the mechanics of human binocular vision. He wonders why the sun and moon appear so much larger near the horizon than when they are high in the sky, and offers the correct explanations. He obsesses on the mathematical implications of spherical and parabolic mirrors, and these issues take him on whole new flights of mathematical calculation. He begins to understand the magnifying power of a lens, a critical discovery that will later help Galileo and Copernicus and Leeuwenhoek to find the stars and to find microbes. (pp. 104-105)

Critical to the emergence of Islamic thinking was an understanding of the traditional premises which would permit critical ideas to emerge. It was natural within the Islamic world that intellectualism be wedded to the values of faith and religion. This foundational form of Religious Humanism did not simply emerge in Spain, but was sprouting throughout the Arab world with figures such as Omar Khayyam, the inventor Al-Jazari, and the Jewish doctor and philosopher Maimonides all contributing to the new sciences and learning.

In the case of Maimonides who is seen as a purely religious figure among pious Jews, Morgan provides a more extended portrait:

Maimonides had done such a good job in those days that his fame had spread far and wide. He had even gotten an offer of employment from the Christian warrior Richard the Lionhearted, which he had ignored.

Maimonides had written ten volumes on medicine, health, disease, and treatments. He had written on everything from how Galen had been wrong, to describing strokes, seizures, liver disease, diabetes, sexual health, and hemorrhoids…

And the irony is that Maimonides will be remembered not so much for his vast medical wisdom, as for his writings as the greatest Jewish philosopher in medieval times and the spiritual godfather of Jews from Spain and the Middle East. Those celebrating his memory will most often be Jews, when throughout his life he worked with and healed as many or more Muslims and Christians. (pp. 210-211)

In the spirit of Arabic science and medicine, the crowning achievement of this period will come from perhaps the greatest thinker of all, Ibn Sina. Ibn Sina composes what will become in effect the primary textbook of all medical knowledge for many centuries, a book simply called al-Qanun, the Canon of Medicine.

Ibn Sina’s method is accurately described by Morgan in the following passage:

Ibn Sina will set down empirical scientific rules for testing and rating the effectiveness of drugs in treating various conditions, rules that will be the backbone of clinical drug trials nine hundred years later. Rather than take a substance on faith, he will say that the purity of the drug is important, that it must be universally effective, that the dose must be tied to the severity of the illness, and, finally, that it must be tested on humans under strictly observed and controlled conditions. (p. 195)

Over the course of the Islamicate centuries, all that we now know about science was set on a solid foundation within world civilization. The restoration of a critical method that was inherited from the ancient Greeks and Romans was adopted by the Arabs who established advanced schools of medicine, religion and science. These schools preserved the old wisdom and developed new methods and strategies that continue to be with us today.

It was in the key aspect of book translation that this precious knowledge found its way to Europe. In the translation laboratories of Toledo and elsewhere in the Muslim world knowledge was made accessible to all who wanted it. A fascinating glimpse of the culture of translation is presented in the following passage:

Abelard of Bath in England, sometimes called Adelard, joined the other translators. He is rumored to have masqueraded as a Muslim in early 12th century Spain to get around the concern of at least one local Spanish Muslim ruler that Christian translators would be “stealing” the accumulated wisdom and knowledge of the Muslims, to appropriate the information and call it their own and to turn it against non-Christians. Valid or not, Abelard takes the safe route. While he translates numerous mathematical works of the Arabs and Greeks from Arabic, the Europeans will best remember him for getting his hands on Arabic translations of the great Euclid.

Other lesser-known translators include Plato of Tivoli, Hermann of Carinthia, Rudolf of Bruges, Michael Scot, Philip of Tripoli, William of Lunis, and in Spain, Dominicus Gondisalvi, and Hugh of Santalla. Spanish Jewish translators of Arabic will include Petrus Alphonsi, Abraham ibn Ezra, John of Seville, and Savasorda. Thus the Europeans will assimilate from their Muslim predecessors a rich, multicultural fusion of scientific thought. Even purely Greek works are now understood through the lens of centuries of Islamic thought, cultivated in regions as diverse as Iraq, Spain, Iran, and Egypt. (p. 217)

Lost History is essential reading for those trying to learn about the roots of Western civilization. Michael Hamilton Morgan has written a luminous and lucid work of popular history whose literary structure helps the reader better understand the relation between past and present. Structuring each chapter of the book around a creative interchange between a modern individual who has some hitherto unknown connection to the world of the Arab-Muslim intellectual past that is being so carefully surveyed, we see the hidden nooks and crannies of our contemporary world and the ways in which the older civilization is imbricated within it. From people working for NASA to a Muslim professional in France to doctors in contemporary Spain, uncovering the surfaces of our lives we can quite easily find the Arabs who have laid the foundation for the way we think and live today.

Of course, there is little question that in our world the rightful image of Arabs and Muslims has been distorted through the lens of politics. And in this aspect, Morgan also provides a sensitive awareness and consciously tries to bring the paradoxes and ironies of the past to bear on the present. While extremists of all stripes endeavor to undo the synthetic history of symbiosis that is omnipresent in our sources, Morgan’s project, like that of Maria Rosa Menocal, Chris Lowney and Richard Rubenstein – all of whom have written equally valuable works on the important role that Islam has played in the context of Western civilization, is to survey the past and to unearth the seminal figures that have provided us with a foundation for the study of math, philosophy and science.

There is little question that today we see a resurgence of ethnic hatred in the wake of the many conflicts that now exist at the heart of the Arab-Muslim world. But it is equally true that the shadows which have slowly but surely crept into this history have exacerbated the already-existing state of incomprehension and hate that has grown between the West and the Muslim world. By reviewing the great cultural achievements of this critical part of the human past, Michael Hamilton Morgan has done us a tremendous service.

On each and every page of Lost History we learn from the historical past new names, new facts and new ways of seeing our contemporary culture. For each fact about science that we thought we understood, there is a precise analogue in the Islamicate civilization. From the beginnings of human flight, to our understanding of disease, to our knowledge of the universe, the bridges linking us to the ancient Greco-Roman science have been built in the Arab-Muslim world. Morgan looks not simply at isolated instances of this bridge-building, but comprehensively accounts for the wider trajectory of Muslim society – from Iraq to Spain, but also from Iran to India to China; from the Abbasids and Umayyads, but also to the Seljuks, Mughals and Ottomans.

The great genius of Arabic civilization must be learned in order to understand the way in which our contemporary civilization has been configured. In Lost History we now have in one convenient volume a broad and inclusive resource that is within the grasp of the average reader and which will provide the specialist with a pedagogical tool making accessible the rich world of Islamic science.

Keeping in mind the ways in which many scholars have in their polemics obscured the genius of this civilization for partisan reasons, the achievement of Lost History is by no means minor or negligible. It is the first book in our time that takes a panoramic look at the civilization of the Muslim world and restores its major figures, ideas and schools in a readable prose that will enlighten the average reader and open their minds to an alternative way of seeing history that refuses to accept the categories of hate and polarization that continue to infect our increasingly unhinged world. It is a book that will serve as an ideal entrance point into the world of Maimonides and the noble Sephardic tradition and force those who are ignorant of that culture to better appreciate the greatness of what our progenitors were able to achieve and to bequeath to us.







binatangisme

imageTragedi di masa depan, adalah semakin banyaknya kaum nihilis. Mereka bukan hanya kalangan ilmuwan bahkan kaum agamawan yang liar. Itulah saat yang layak disebut ''

Anda mungkin pernah melihat tayangan acara Fenomena di Trans TV pada Jumat tengah malam pukul 24.00 WIB 9 Juli 2005. Dalam program itu diekspos seputar bisnis esek-esek di Makassar; seperti seks becak lambat, tari erotik, dan karaoke plus.

Beberapa waktu sebelumnya, dalam acara Good Morning, Senin, 13 Juni 2005, pukul 08.30 WIB, Trans TV telah melakukan kampanye legalisasi perkawinan sejenis. Seorang lesbian digambarkan sebagai pejuang atau bahkan pahlawan. Trans TV melakukan kampanye legalisasi perkawinan sesama jenis.

Ketika itu ditampilkan sosok wanita lesbian bernama Agustin, yang mengaku sudah 13 tahun hidup bersama pasangannya yang juga seorang wanita. Praktik hubungan seksual dan perkawinan sesama jenis, katanya, adalah sesuatu yang baik.

Program serupa itu juga ada di TV lain. Lativi misalnya, pernah mengangkat liputan esek-esek seperti; Jakarta Underground, Cucak Rawa, dan Bunglon. Belum lagi tarian-tarian yang sangat vulgar seperti fenomena Inul Daratista dan Annisa Bahar yang sudah tergolong penari-penari pornoaksi yang amoral.

Program-program murahan ini umumnya digemari semua kalangan produsen TV. Ada acara jual goyangan seperti Digoda, Joged, Duet Maut, dan Kawasan Dangdut.

Perilaku yang kita anggap amoral dan tidak normal (dissorder) justru oleh media TV disajikan sebagaimana biasa, seolah-olah sesuatu yang sah saja.

Hampir banyak kita temukan figur-figur yang bergaya waria. Entah dia waria sungguhan atau hanya pura-pura. Rasanya, seolah kurang lengkap jika TV tak mengontrak seorang presenter waria alias banci. Liputan kehidupan kaum gay atau lesbian. Yang juga diangkat melalui film layar lebar berjudul Arisan.

Alih-alih berbisnis, pemutaran film seperti ini seolah ingin mengkampanyekan bahwa perilaku laknat seperti itu adalah hal yang lumrah, sah-sah saja, dan tak perlu dipersoalkan.

Sering pula kita jumpai tayangan bejat lainnya seperti kehidupan komunitas para penjaja seks, baik wanita maupun laki-laki (gigolo), pelacuran anak-anak di bawah umur, fenomena 'ayam kampus', kehidupan tante-tante girang dan oom-oom senang, pesta seks (orgy), fenomena tukar pasangan (swinger), serta berbagai gejala penyimpangan seksual lainnya.

Menuju Liberalisme

Ada tiga fenomena mendasar yang kita saksikan dalam perkembangan menghawatirkan sehubungann liarnya media massa di Indonesia belakangan ini. Pertama, secara sosial, telah terjadi proses rekayasa sosial (social engineering) yang disengaja untuk mentransformasikan masyarakat kita menuju masyarakat sekuler-liberal.

Kedua, secara ekonomi membuktikan kaum kapitalis (pemodal) telah menguasai media demi uang semata tanpa peduli moral masyarakat. Ketiga, secara politik menunjukkan pemerintah kita tidak punya tanggung jawab dalam urusan moral umat.

Fenomena media liberal (saya lebih senang menyebutnya liar) membuktikan bahwa masyarakat kita sekarang sedang digiring oleh kekuatan kapitalisme global untuk bertransformasi menuju masyarakat sekuler dan liberal, sebagaimana masyarakat Barat.

Tayangan-tayangan TV yang liar seperti secara halus akan menyusup pada rana publik dan secara sengaja pula menjajakan nilai kebebasan (freedom, liberty). Melalui ruang publik (public sphere) itulah kemudian melahirkan opini umum (public opinion), dan selanjutnya berproses menjadi shared values, yaitu acuan nilai kultural yang disepakati bersama.

Jika dulu kalangan ahli psikologi memasukkan gay dan lesbianisme sebagai salah satu diantara bentul kelainan seks (sexual-dissorder), tetapi kini orang biasa memandangnya, karena media massa –lah yang mengkampanyekanya.

Kebebasan tanpa batas adalah mind-set kaum sekuler-liberal. Bahwa kebebasan adalah nilai ideal yang harus diujudkan dalam suatu masyarakat.

Dalam pidato pelantikannya sebagai presiden tanggal 20 Januari 2005 lalu, George W. Bush mengatakan ,"When you stand for your liberty, we will stand for you." (Jika Anda berjuang untuk kebebasan Anda, maka kami akan bersama Anda).

Bush juga menegaskan, "The best hope for peace is the expansion of freedom." (Harapan terbaik untuk perdamaian, adalah melakukan ekspansi kebebasan) (Newsweek, 31 Januari 2005). Perhatikan pilihan kata Bush, yang menggunakan "ekspansi kebebasan" (expansion of
freedom). Jelas, mengindikasikan bahwa kebebasan adalah nilai asing yang dicekokkan secara paksa ke dalam tubuh masyarakat kita yang mayoritas muslim.

Tentu ekspansi kebebasan ini jangan diartikan harfiyah bahwa yang mengusung nilai-nilai kebebasan haruslah orang kulit putih seperti orang Amerika atau Eropa. Bisa jadi, dan ini memang sudah terjadi, yang mengusungnya justru orang kita sendiri yang berkulit sawo matang dan bahkan, beragama Islam. Namun pikiran mereka tentu telah terkotori oleh paham liberal gaya kapitalis.

Anti Moralitas

Secara ekonomi, eksistensi media liberal membuktikan kaum kapitalis adalah pihak yang sungguh tak bertanggung jawab. Karena mereka hanya memikirkan bagaimana mengeruk keuntungan pribadi dengan cara nista.

Ketika banyak pihak mengecam goyang Inul justru media mengangkatnya tinggi-tinggi hanya untuk mengejar rating dan iklan. Uang, adalah Tuhan bagi industri hiburan.

Kata Adam Smith, dalam The Wealth of Nations (1776), jika tukang daging menjual dagingnya kepada Anda, itu bukan karena dia berbelas kasihan atau bersimpati kepada Anda, melainkan karena dia mengejar keuntungannya sendiri. Bicaralah uang karena hidup adalah uang. Itulah cita-cita kapitalisme dan kaum liberalis.

Ciri berkembangnya fenomena sekulerime-liberalisme adalah hadirnya kaum nihilis. Alih-alih sebagai pejuang keadilan, mereka selalu menempatkan kata 'netral' sebagai penyelamat moral. Kaum seperti ini tak pernah bisa membedakan mana yang benar menurut hati nurani dan mana yang salah.

Karena itu, jangan heran bila kemudian muncul jawaban-jawaban seperti; "Kalau tak suka acaranya, matikan saja TV yang Anda tonton."

Logika nihilisi seperti ini tak hanya milik produser TV. Hampir semua orang, para seniman, artis, selebritis dan tak terkecuali para ilmuwan ikut terserat ke dalamnya. Tatkala muncul pro kontra pose bikini Artika Sari Devi --wakil Indonesia dalam Miss Universe— dengan entengnya seniman Sujowo Tejo santai mengomentari,"...Yang bikin porno itu pikiran kita."

Jadi, bagi orang seperti Sujiwo Tejo, atau para pemuja liberalisme, yang salah itu otak kita. Artika tidak salah, media juga tak salah, pemerintah juga tak berdosa. Inilah logika kaum nihilis.

Logika kaum nihilis membolehkan orang bertelanjang berlenggang-kangkung di jalan-jalan, di pasar, di panggung hiburan. Boleh saja di film dan layar TV menjajakan 'ketelanjangan' asalkan otak bisa sopan..

Ketika umat Islam –yang juga mayoritas pemilik negeri ini—dan menjerit-jerit untuk menghentikan 'media liar' melalui RUU Pornografi dan Pornoaksi, para LSM dan suara kaum nihilis justru melawannya beramai-ramai.

Mereka yang menamakan diri "Jaringan Program Legislasi Nasional" (Prolegnas) Pro Perempuan, yang beranggotakan 35 organisasi perempuan --termasuk Komnas Perempuan, Kowani, Puan Amal Hayati, Muslimat NU, Cetro, Aliansi Pelangi Antarbangsa, Kalyanamitra, Pusat Krisis Terpadu RS Cipto Mangunkusumo, LBH Jakarta, dan LBH APIK Jakarta-- menilai RUU tersebut justru berpotensi melahirkan kekerasan aru, menempatkan korban menjadi pelaku, terutama pada korban perempuan dan anak, melanggar kebebasan berekspresi, dan membakukan standar kesusilaan berdasarkan pemahaman satu kelompok saja (Kompas, 2/7/2005).

Seorang anggota jaringan tersebut hanya mempersoalkan salah satu isi pasal pornoaksi berpotensi mengkriminalkan semua perempuan hanya karena ada istilah "dilarang memperlihatkan payudara di muka umum." "Tidak dijelaskan payudara siapa." Katanya sinis. "Bagaimana dengan ibu-ibu yang menyusui bayinya di muka umum? Bagaimana dengan kebiasaan masyarakat mandi dan buang air di kali?" Demikian pertanyaan rewel aktivis itu.

Seorang pengelola pesantren, Abdul Moqsith Ghazali bahkan terkesan menghalang-halangi RUU yang dibutuhkan umat Islam tersebut. Pria yang juga aktifis Islam liberal itu mengugat pasal "dilarang mempertontonkan alat kelamin di muka umum" dengan mengatakan , "Lalu bagaimana dengan orang yang mandi di sungai?" (Kompas, 2/7/2005).

Selera kaum liberalis (sebut saja kaum nihilis) pada akhirnya membolehkan apa saja secara bebas dan liar tanpa adanya otoritas pelarangan baik atas nama pihak berkuasa atau kaum yang sering mereka ledek sebagai kaum moralis. Semua boleh hidup bebas meski itu liar.

Saya teringat George Orwell, pengarang novel "Animal Farm" yang oleh mendiang Mahbub Djunaidi diindonesiakan menjadi novel "Binatangisme". Dalam kehidupan 'Binatangisme' orang boleh hidup semau-gue. Undang-undang kaum 'Binatangisme" adalah 'siapa yang kuat itulah yang menang'.

Bahkan dalam kehidupan 'Binatangisme', seorang anak boleh saja menggauli ibundanya sendiri tanpa harus takut agama atau ditangkap polisi. Ituklah makna kebebasan!.

Tragedi di masa depan, adalah semakin banyaknya kelahiran kaum nihilis berselera 'binatangisme'. Mereka bukan hanya kalangan ilmuwan bahkan kaum agamawan. Mereka bahkan fasih terhadap ayat suci tetapi lupa 'hati-nurani'.

Justru merekalah pendukung utama jalan-jalan 'liar'. Sebab atas nama kebebasan, mereka tak lagi pernah berani mengatakan haq dan batil.

Untuk itu, tak ada kata yang tepat bagi mereka selain ucapan, "Ahlan Wa Sahlan 'Binatangisme'."


sumber : Hidayatullah.com







Teori Evolusi Kewajiban Materialistis

Ghazwul Fikr Dengan metode ilmiah, kita dapat menyelidiki pernyataan materialis bahwa materi itu abadi, dan materi ini dapat mengorganisir diri tanpa memerlukan Pencipta serta mampu memunculkan kehidupan. Namun sejak awal, kita melihat bahwa materialisme telah runtuh karena gagasan tentang kekekalan materi telah dihancurkan oleh teori Dentuman Besar (Big Bang), yang menunjukkan bahwa jagat raya diciptakan dari ketiadaan. Pernyataan bahwa materi dapat mengorganisir diri dan memunculkan kehidupan adalah pernyataan "teori evolusi" - teori yang telah dibahas oleh buku ini dan ditunjukkan keruntuhannya.


Informasi yang telah disampaikan sejauh ini menunjukkan bahwa teori evolusi tidak memiliki dasar ilmiah; dan sebaliknya, pernyataan-pernyataan evolusi bertentangan dengan temuan-temuan ilmiah. Dengan kata lain, kekuatan yang menyokong evolusi bukanlah ilmu pengetahuan. Evolusi memang dibela oleh beberapa "ilmuwan", tetapi pasti ada kekuatan lain yang berperan. Kekuatan ini adalah filsafat materialis.

Filsafat materialis merupakan salah satu sistem pemikiran tertua dalam sejarah manusia. Karakteristiknya yang paling mendasar adalah anggapan bahwa materi itu absolut. Menurut filsafat ini, materi tidak terbatas (infinite), dan segala sesuatu terdiri dari materi, dan hanya materi. Pendekatan ini menutup kemungkinan terhadap kepercayaan kepada Pencipta. Oleh sebab itu, materialisme sejak lama memusuhi agama-agama yang memiliki keyakinan terhadap Allah.

Jadi, pertanyaannya sekarang: apakah cara pandang materialis itu benar? Untuk mengujinya, kita harus menyelidiki pernyataan-pernyataan filsafat tersebut yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, dengan menggunakan metode-metode ilmiah. Misalnya, seorang filsuf abad ke-10 dapat mengatakan bahwa ada pohon keramat di permukaan bulan, dan semua makhluk hidup tumbuh seperti buah pada cabang-cabangnya lalu jatuh ke bumi. Sebagian orang mungkin menganggap filsafat ini menarik dan mempercayainya. Namun pada abad ke-20, ketika manusia telah sampai ke bulan, filsafat semacam ini tidak mungkin dikemukakan. Ada atau tidaknya pohon semacam itu di sana dapat ditentukan dengan metode-metode ilmiah, yaitu dengan pengamatan dan eksperimen.

Dengan metode ilmiah, kita dapat menyelidiki pernyataan materialis bahwa materi itu abadi, dan materi ini dapat mengorganisir diri tanpa memerlukan Pencipta serta mampu memunculkan kehidupan. Namun sejak awal, kita melihat bahwa materialisme telah runtuh karena gagasan tentang kekekalan materi telah dihancurkan oleh teori Dentuman Besar (Big Bang), yang menunjukkan bahwa jagat raya diciptakan dari ketiadaan. Pernyataan bahwa materi dapat mengorganisir diri dan memunculkan kehidupan adalah pernyataan "teori evolusi" - teori yang telah dibahas oleh buku ini dan ditunjukkan keruntuhannya.

Akan tetapi, jika seseorang berkeras mempercayai materialisme dan mendahulukan kesetiaan pada paham ini daripada hal-hal lainnya, maka ia tidak akan menggunakan metode ilmiah. Jika orang tersebut "mendahulukan materialismenya daripada keilmuwanannya", maka ia tidak akan meninggalkan materialisme sekali pun tahu bahwa konsep evolusi tidak diakui ilmu pengetahuan. Sebaliknya, ia berusaha menegakkan dan menyelamatkan paham ini dengan mendukung konsep evolusi apa pun yang terjadi. Inilah keadaan sulit yang dihadapi evolusionis.

Yang menarik, ternyata mereka pun mengakui fakta ini dari waktu ke waktu. Ahli genetika evolusionis terkenal dari Universitas Harvard, Richard C. Lewontin, mengakui bahwa dia "materialis dulu baru ilmuwan" dengan kata-kata berikut:

Bukan metode dan penemuan-penemuan ilmiah yang mendorong kami menerima penjelasan material tentang dunia yang fenomenal ini. Sebaliknya, kami dipaksa oleh keyakinan apriori kami terhadap prinsip-prinsip material untuk menciptakan perangkat penyelidikan dan serangkaian konsep yang menghasilkan penjelasan material, betapa pun bertentangan dengan intuisi, atau membingungkan orang-orang yang tidak berpengetahuan. Lagi-pula, materialisme itu absolut, jadi kami tidak bisa membiarkan Kaki Tuhan masuk.







Makna Kesuksesan

Banyak orang yang tahan
menghadapi kesulitan, tapi sedikit orang yang tahan ketika menghadapi kemudahan dan kelapangan.
Ada orang yang bersabar ketika tidak mempunyai harta, tapi banyak orang yang hilang kesabaran ketika hartanya
melimpah. Ternyata, harta, pangkat, dan gelar yang seringkali dijadikan sebagai alat ukur kesuksesan, dalam prakteknya
malah sering membuat orang tergelincir dalam kesesatan dan kekeliruan. Lantas, apakah sebenarnya makna dari
sebuah kesuksesan? Setiap orang bisa jadi memiliki paradigma yang berbeda mengenai kesuksesan. Namun secara
sederhana, sukses bisa dikatakan sebagai sebuah keberhasilan akan tercapainya sesuatu yang telah ditargetkan. Pada
dasarnya, dalam dimensi yang lebih luas, sukses adalah milik semua orang. Tetapi persoalan yang sering terjadi adalah
bahwa tidak semua orang tahu bagaimana cara mendapatkan kesuksesan itu. Dalam paradigma Islam, kesuksesan
memang tidak hanya dilihat dari aspek duniawi, namun juga ukhrowi. Untuk itu kita butuh suatu sistem atau pola hidup
yang memungkinkan kita untuk dapat meraih sukses di dunia sekaligus di akhirat. Satu hal yang sejak awal harus
direnungi bahwa sukses dunia jangan sampai menutup peluang kita untuk meraih sukses akhirat. Justru sukses hakiki
adalah saat kita berjumpa dengan Allah nanti. Apalah artinya di dunia dipuji habis-habisan, segala kedudukan
digenggam, harta bertumpuk-tumpuk, namun ternyata semua itu tidak ada harganya secuil pun di sisi Allah.
Orang yang sukses sebenarnya adalah orang yang berhasil mengenai Allah, berani taat kepada Allah, dan berhasil
menjauhi segala larangan-Nya. Orang yang sukses sejati adalah orang yang terus-menerus berusaha membersihkan
hati. Di sisi lain dia terus meningkatkan kemampuan untuk mempersembahkan pengabdian terbaik, di mana hal itu akan
terlihat dari keikhlasan dan kemuliaan akhlaknya. Sukses akhirat akan kita raih ketika sukses dunia yang didapatkan
tidak berbenturan dengan rambu-rambu larangan Allah. Betapa bernilai ketika sukses duniawi diperoleh seiring ketaatan
kita kepada Allah SWT. Oleh karena itu jangan pernah merasa sukses saat mendapatkan sesuatu. Kesuksesan kita
adalah ketika kita mampu mempersembahkan yang terbaik dari hidup ini untuk kemaslahatan manusia. Itulah rahmatan
lil alamin, rahmat bagi seluruh alam. Itulah Islam. Begitu pula bila kita menyangka bahwa sukses itu jika kita telah
memiliki rumah yang megah dan harta yang banyak. Sementara itu, melihat orang yang tinggal di rumah kontrakan kita
anggap sebagai tanda kegagalan. Walhasil, kita justru pontang-panting sekedar untuk memenuhi itu semua. Bahkan
bisa jadi untuk mendapatkan itu akhlak sama sekali tidak kita perhatian. Na'udzubillahi min dzalik.
Sebenarnya, siapa pun bisa menjadi orang mulia dan sukses, tak peduli ia seorang pembantu rumah tangga, guru,
tukang sayur, atau pejabat pemerintah. Selama orang itu bekerja dengan baik dan benar, taat beribadah, dan akhlaknya
mulia, dia bisa menjadi orang sukses. Bisa jadi orang yang sukses itu hanyalah seorang pembantu rumah tangga. Saat
bekerja ia melakukannya sepenuh hati. Ia bekerja dengan baik. Dalam pekerjaannya itu ia jaga shalatnya, tidak berkata
dusta, dan ia benar-benar menjaga ketakutannya terhadap majikan. Sebaliknya ada juga majikan yang kasar, ketus, dan
juga kaya, namun kekayaaannya itu sendiri didapatkan dengan cara yang tidak halal. Bukankah lebih mulia pembantu
daripada majikan yang seperti itu.
Begitupun yang sukses bisa jadi hanya berprofesi sebagai guru SD. Ia tak begitu dikenal. Ke sekolah pun terkadang
dengan berjalan kaki, tetapi dengan tulus ia tetap menjalani profesinya. Bisa jadi ia lebih mulia daripada rektor yang
jarang mengenal sujud di hadapan Allah. Sebab apalah arti jabatan rektor tersebut atau gelar profesornya bila tidak
memiliki kemampuan mengenal Tuhannya sendiri. Atau mungkin seorang pedagang sayur. Dia jujur dan tidak pernah
mengurangi timbangan. Untungnya juga tidak terlalu banyak. Tetapi ia tetap mulia dalam pandangan Allah. Dibanding
pengusaha besar yang sudah licik, suka menyuap, juga serakah. Maka, demi Allah! Kedua-duanya akan sampai kepada
kematian. Adapun yang mulia di hadapan-Nya tetap orang yang jujur. Maka berhati-hatilah, bukan gelar yang membuat
baik seseorang.
Bukan jabatan yang membuat seseorang terlihat baik. Itu semua hanyalah "topeng". Semuanya tak ada apa-apanya
kalau pribadinya sendiri tak berkualitas. Oleh karena itu, pantang kita hormat kepada orang yang tidak menjadikan
kemuliaannya untuk taat kepada Allah. Entah itu jabatannya sebagai Direktur Utama sebuah perusahaan, entah ia
berpangkat sebagai jenderal, menteri, wakil rakyat, bahkan presiden sekalipun, kalau ia menjadikan pengaruhnya untuk
berbuat tidak adil dan berakhlak buruk.
Dalam Al-Qur'an Surat Al-Hujuraat ayat 13 dijelaskan, bahwa: "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu di
sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu". Jadi, yang paling mulia bukanlah orang yang paling banyak
gelarnya atau orang yang paling kaya dan dianggap paling sukses. Orang mulia dan sukses adalah orang yang berhasil
mengenal Allah. Lalu dia taat pada-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.


AA Gym - CyberMQ







Kamis, 17 Juli 2008

Nabi Muhammad SAW dan Manajemen bisnis

Sebagai Rasul terakhir Allah SWT, Nabi Muhammad SAW tercatat dalam sejarah adalah pembawa kemaslahatan dan kebaikan yang tiada bandingan untuk seluruh umat manusia. Bagaimana tidak karena Rasulullah SAW telah membuka zaman baru dalam pembangunan peradaban dunia. Beliaulah adalah tokoh yang paling sukses dalam bidang agama (sebagai Rasul) sekaligus dalam bidang duniawi (sebagai pemimpin negara dan peletak dasar peradaban Islam yang gemilang selama 1000 tahun berikutnya).

Kesuksesan Rasulullah SAW itu sudah banyak dibahas dan diulas oleh para ahli sejarah Islam maupun Barat. Namun ada salah satu sisi Muhammad SAW ternyata jarang dibahas dan kurang mendapat perhatian oleh para ahli sejarah maupun agama yaitu sisinya sebagai seorang
pebisnis ulung. Padahal manajemen bisnis yang dijalankan Rasulullah SAW hingga kini maupun di masa mendatang akan selalu relevan diterapkan dalam bisnis modern. Setelah kakeknya yang merawat Muhammad SAW sejak bayi wafat, seorang pamannya yang bernama Abu Thalib lalu
memeliharanya.

Abu Thalib yang sangat menyayangi Muhammad SAW sebagaimana anaknya sendiri adalah seorang pedagang. Sang paman kemudian mengajari Rasulullah SAW cara-cara berdagang (berbisnis) dan bahkan mengajaknya pergi bersama untuk berdagang meninggalkan negerinya (Makkah) ke negeri Syam (yang kini dikenal sebagai Suriah) pada saat Rasulullah SAW baru berusia 12 tahun. Tidak heran jika beliau telah pandai berdagang sejak berusia belasan tahun. Kesuksesan Rasulullah SAW dalam berbisnis tidak terlepas dari kejujuran yang mendarah daging dalam sosoknya.
>
Kejujuran itulah telah diakui oleh penduduk Makkah sehingga beliau digelari Al Shiddiq. Selain itu, Muhammad SAW juga dikenal sangat teguh memegang kepercayaan (amanah) dan tidak pernah sekali-kali mengkhianati kepercayaan itu. Tidak heran jika beliau juga mendapat julukan Al Amin (Terpercaya). Menurut sejarah, telah tercatat bahwa Muhammad SAW melakukan lawatan bisnis ke luar negeri sebanyak 6 kali diantaranya ke Syam (Suriah), Bahrain, Yordania dan Yaman. Dalam semua lawatan bisnis, Muhammad selalu mendapatkan kesuksesan besar dan tidak pernah mendapatkan kerugian.

Lima dari semua lawatan bisnis itu dilakukan oleh beliau atas nama seorang wanita pebisnis terkemuka Makkah yang bernama Khadijah binti Khuwailid. Khadijah yang kelak menjadi istri Muhammad SAW, telah lama mendengar reputasi Muhammad sebagai pebisnis ulung yang jujur dan teguh memegang amanah. Lantaran itulah, Khadijah lalu merekrut Muhammad sebagai manajer bisnisnya. Kurang lebih selama 20 tahun sebelum diangkat menjadi Nabi pada usia 40 tahun, Muhammad mengembangkan bisnis Khadijah sehingga sangat maju pesat. Boleh
dikatakan bisnis yang dilakukan Muhammad dan Khadijah (yang menikahinya pada saat beliau berusia 25 tahun) hingga pada saat pengangkatan kenabian Muhammad adalah bisnis konglomerat.

Pola manajemen bisnis apa yang dijalankan Muhammad SAW sehingga bisnis junjungan kita itu mendapatkan kesuksesan spektakuler pada zamannya ? Ternyata jauh sebelum para ahli bisnis modern seperti Frederick W. Taylor dan Henry Fayol pada abad ke-19 mengangkat prinsip manajemen sebagai sebuah disiplin ilmu, ternyata Rasulullah SAW telah mengimplementasikan nilai-nilai manajemen modern dalam kehidupan dan praktek bisnis yang mendahului masanya. Berdasarkan prinsip-prinsip manajemen modern, Rasulullah SAW telah dengan sangat baik mengelola proses, transaksi, dan hubungan bisnis dengan seluruh elemen bisnis serta pihak yang terlihat di dalamnya.

Seperti dikatakan oleh Prof. Aflazul Rahman dalam bukunya “Muhammad: A Trader” bahwa Rasulullah SAW adalah pebisnis yang jujur dan adil dalam membuat perjanjian bisnis. Ia tidak pernah membuat para pelanggannya mengeluh. Dia sering menjaga janjinya dan menyerahkan barang-barang yang dipesan dengan tepat waktu. Muhammad SAW pun senantiasa
menunjukkan rasa tanggung jawab yang besar dan integritas yang tinggi dalam berbisnis. Dengan kata lain, beliau melaksanakan prinsip manajemen bisnis modern yaitu kepuasan pelanggan (customer satisfaction), pelayanan yang unggul (service exellence), kemampuan,
efisiensi, transparansi (kejujuran), persaingan yang sehat dan kompetitif.

Dalam menjalankan bisnis, Muhammad SAW selalu melaksanakan prinsip kejujuran (transparasi). Ketika sedang berbisnis, beliau selalu jujur dalam menjelaskan keunggulan dan kelemahan produk yang dijualnya. Ternyata prinsip transparasi beliau itu menjadi pemasaran yang efektif untuk menarik para pelanggan. Beliau juga mencintai para pelanggannya seperti mencintai dirinya sehingga selalu melayani mereka dengan sepenuh hatinya (melakukan service exellence) dan selalu membuat mereka puas atas layanan beliau (melakukan prinsip customer satisfaction).

Dalam melakukan bisnisnya, Muhammad SAW tidak pernah mengambil margin keuntungan sangat tinggi seperti yang biasa dilakukan para pebisnis lainnya pada masanya. Beliau hanya mengambil margin keuntungan secukupnya saja dalam menjual produknya.Ternyata kiat mengambil margin
keuntungan yang dilakukan beliau sangat efektif, semua barang yang dijualnya selalu laku dibeli Orang-orang lebih suka membeli barang-barang jualan Muhammad daripada pedagang lain karena bisa mendapatkan harga lebih murah dan berkualitas. Dalam hal ini, beliau melakukan prinsip persaingan sehat dan kompetitif yang mendorong bisnis semakin efisien dan efektif.

Boleh dikatakan Rasulullah SAW adalah pelopor bisnis yang berdasarkan prinsip kejujuran, transaksi bisnis yang adil dan sehat. Beliau juga tidak segan mensosialisasikan prinsip-prinsip bisnisnya dalam bentuk edukasi dan pernyataan tegas kepada para pebisnis lainnya. Ketika
menjadi kepala negara, Rasulullah SAW mentransformasikan prinsip-prinsip bisnisnya menjadi pokok-pokok hukum. Berdasarkan hal itu, beliau melakukan penegakan hukum pada para pebisnis yang nakal. Beliau pula yang memperkenalkan asas “Facta Sur Servanda” yang kita kenal sebagai asas utama dalam hukum perdata dan perjanjian. Di tangan para pihaklah terdapat kekuasaan tertinggi untuk melakukan transaksi bisnis yang dibangun atas dasar saling setuju.

Berdasarkan apa yang dibahas di atas ini, jelas junjungan yang kita cintai itu adalah pebisnis yang melaksanakan manajemen bisnis yang mendahului zamannya. Bagaimana tidak karena prinsip-prinsip manajemen Rasulullah SAW baru dikenal luas dan diimplementasikan para pebisnis
modern sejak abad ke-20, padahal Rasulullah SAW hidup pada abad ke-7. Pakar manejemen bisnis terkemuka Indonesia, Rhenald Kasali pun mengakuinya dengan mengatakan bahwa semua bisnis yang diinginkan niscaya juga akan sukses jika mau menduplikasi karakter Muhammad SAW
dalam berbisnis. Dengan begitu, kita dapat mengatakan kepada pelaku bisnis, “Ingin bisnis sukses, jalankan manajemen bisnis Muhammad SAW!” Selamat mencoba dan semoga bermanfaat.

source : Fachri








Menuju Pragmatisme Religius

Oleh Kuntowijoyo

ADA perubahan besar dan mendasar dalam dunia politik di Indonesia. Transformasi itu ialah hilangnya dikotomi sekuler-religius. Gejala-gejala baru itu ada dalam Pilpres 2004. Semua pasangan capres dan cawapres terdiri atas dua sejoli, sekuler dan religius.


Kata "sekuler" (bukan sekularisme) berarti pandangan "semua urusan adalah murni rasional". Karena itu, bisa saja orang yang secara pribadi amat religius, tetapi memisahkan "urusan" dengan agamanya. Kata "religius" merujuk kepada pandangan "semua urusan mengandung nilai ketuhanan dan kemanusiaan". Keduanya adalah perkembangan dari dikotomi santri-abangan. Istilah yang biasa dipakai, nasionalis dan religius atau nasionalis religius dan religius nasionalis.

Lihat gejala-gejala menarik ini: Wiranto-Salahuddin Wahid (sekuler-religius), Megawati-Hasyim Muzadi (sekuler-religius), Amien Rais-Siswono Yudo Husodo (religius-sekuler), Susilo Bambang Yudhoyono-M Jusuf Kalla (sekuler-religius), dan Hamzah Haz-Agum Gumelar (religius-sekuler).

Tidak ada lagi dikotomi-dikotomi. Lalu ke arah mana dunia politik bergerak? Pragmatisme religius!

Dikotomi sosial dan budaya

Dikotomi sosial antara priayi dan wong cilik sudah lama mengabur. Program pendidikan umum (pemerintah dan swasta) menjadi sebab mobilitas sosial. Juga munculnya sektor usaha menyebabkan mobilitas sosial. Namun, secara resmi dikotomi sosial dihapus pada 1945 ketika, baik priayi maupun wong cilik, menjadi pegawai negeri. Soekarno yang berasal dari golongan priayi menjadi presiden. Mobilitas sosial itu mencapai puncaknya pada 1966 saat Soeharto yang berasal dari wong cilik menjadi presiden. Karier kemiliteran ternyata menjadi sarana yang baik untuk mobilitas sosial itu. Pada zaman Belanda ada KNIL, zaman Jepang Peta, Heiho, dan Hizbullah, RI punya TNI/Polri. Pembagian kerja masyarakat juga terjadi sehingga dikotomi sosial itu mengabur dan menghilang. Pekerjaan-pekerjaan baru juga muncul: dosen, profesional (advokat, notaris, anggota legislatif), dan eksekutif perusahaan.

Dikotomi budaya abangan dan santri yang mempunyai latar belakang panjang itu juga mengabur secara pelan-pelan. Semula abangan dan santri memang sangat berpengaruh pada dunia politik. Ada Si Merah dan Si Putih, ada PKI, PNI, dan Masyumi/NU. Dalam kepercayaan-kepercayaan nativistik (Agama Jawa, Saminisme, Sarekat Abangan), agama kaum santri ditolak. Namun, dikotomi budaya mulai mengabur berkat adanya mobilitas budaya: haji, buku-buku, dan pergaulan.

Pendidikan agama di sekolah-sekolah mempunyai andil yang sangat besar. Anak-anak kaum santri malahan sangat tergantung pada sekolah dan perguruan tinggi agama negeri. Pendidikan agama dari semua jenjang (madrasah ibtidaiyah, tsanawiyah, aliyah) negeri maupun swasta tersedia, baik bagi abangan maupun santri. Tidak ada lagi dikotomi budaya abangan dan santri. Dari dikotomi budaya abangan dan santri inilah lahir dikotomi budaya yang baru, yaitu sekuler dan religius. Oleh karena itu, Pilpres 2004 yang menggabungkan sekuler dan religius hanyalah konsekuensi logis dari proses yang lama. Hasilnya adalah pragmatisme religius. Tetapi, apakah pragmatisme? Dan pragmatisme religius?

Pragmatisme

Abad ke-19 menghasilkan tokoh-tokoh pemikir, di antaranya ialah Karl Marx (1818-1883) di kontinen Eropa dan William James (1842-1910) di kontinen Amerika. Kedua pemikir itu mengklaim telah menemukan kebenaran. Marx, yang terpengaruh positivisme, melahirkan sosialisme dan James, seorang relativis, melahirkan pragmatisme. Baik sosialisme maupun pragmatisme dimaksudkan supaya kemanusiaan dapat menghadapi masalah besar, yaitu industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi.

Arti umum dari pragmatisme ialah kegunaan, kepraktisan, getting things done. Menjadikan sesuatu dapat dikerjakan adalah kriteria bagi kebenaran. James berpendapat bahwa kebenaran itu tidak terletak di luar dirinya, tetapi manusialah yang menciptakan kebenaran. It is useful because it is true, it is true because it is useful. Karena kriteria kebenaran itulah, pragmatisme sering dikritik sebagai filsafat yang mendukung bisnis dan politik Amerika. Dengan adanya pragmatisme tidak ada sosialisme di Amerika. (Ada memang Partai Komunis Amerika dan toko-toko buku Marxisme. Tetapi, baik sosialisme maupun komunisme tidak pernah diperhitungkan dalam dunia politik). Kaum buruh Amerika juga menjadi pendukung kapitalisme karena mereka ikut berkepentingan. Hampir-hampir tidak ada ada kritik terhadap kapitalisme, kecuali dari gerakan The New Left pada akhir 1960-an dan awal 1970-an.

Dalam artikel ini kita akan memperlakukan pragmatisme sebagai model cara berpikir dan melepaskannya dari latar belakang keamerikaan. Sebagai cara berpikir, pragmatisme telah merambah ke seluruh dunia. Dalam epistemologi pragmatisme individualisme dan materialisme ekonomi tumbuh subur. Unsur kesadaran tak terdapat di dalamnya.

Sekalipun William James menulis Varieties of Religious Experiences, tidak berarti bahwa dia mendukung kesadaran beragama. Selama pengalaman keagamaan itu berguna bagi yang bersangkutan, maka ia benar. Dengan demikian, pragmatisme adalah relativisme. Tidak ada kebenaran abadi dan mutlak, segalanya tergantung pada apakah "kebenaran" itu berguna atau tidak.

Dalam dunia politik di Indonesia, Orde Baru menganut pragmatisme. Rezim itu tidak peduli dengan nilai. Apa saja dikerjakan oleh rezim itu asal menguntungkan sebuah power politics. Dalam politik, fitnah (Petisi 50), rekayasa isu mendirikan Negara Islam (Hispran akhir 1970-an), Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk menyaingi agama-agama (1978), pembunuhan (Tanjung Priok 1984), dan kampanye anti-Pancasila (1985). Pragmatisme dalam bisnis juga melahirkan kroni dan para konglomerat yang tak peduli dengan Indonesia. Mereka mengisap Indonesia dan membawa hartanya keluar. Nucuk angiberake (mencari makan di sini, membawa keluar). Orde Baru membelanya dengan menyebut mereka justru penganut "nasionalisme baru".

Pragmatisme religius

Kata "sekuler" sudah tercakup dalam istilah pragmatisme karena pragmatisme sudah pasti sekuler. Dari dikotomi sekuler-religius, tinggal kata "religius" yang masih ada. Maka, pragmatisme religius akan berarti bahwa "semua urusan mempunyai dimensi rasional, ketuhanan, dan kemanusiaan".

Dalam pragmatisme religius, dikotomi sekuler-religius hilang. Itulah yang bisa diharapkan dari Pilpres 2004. Dikotomi budaya yang selama ini menghantui sistem politik Indonesia hilang. Bersama dengan hilangnya dikotomi sekuler-religius, tidak akan ada lagi charismatic politics, power politics, dan politics of meaning. Urusan publik Indonesia pun bergeser orientasi, dari Eropa ke Amerika. Diharapkan kekhawatiran akan kembalinya PKI juga lenyap sebab bangsa tidak memerlukan lagi ideologi-ideologi besar dan total. Urusan akan dikelola sebagai urusan yang rasional dengan dimensi ketuhanan dan kemanusiaan. Keinginan kaum sekuler ekstrem untuk menghapuskan Departemen Agama, karena instansi itu hanya membuang-buang uang publik juga tidak akan muncul. Pragmatisme religius mengintegrasikan yang sekuler dan yang religius, kepentingan manusia dan "kepentingan" Tuhan, kepentingan dunia, dan kepentingan akhirat. Pragmatisme religius adalah antropo-teosentrisme.

Dalam dunia politik di Indonesia, Piagam Jakarta 1945 menjadi momok yang selalu menghantui partai-partasi Islam dan non-Islam. Juga dalam Pilpres 2004 hantu itu muncul lagi. Seolah-olah mereka yang kontra-Piagam Jakarta bukanlah orang Islam, setidaknya bukan orang Islam yang baik. Syariat Islam telah misrepresented oleh pemeluknya sendiri, dan misunderstood oleh orang luar. Potong-tangan, cambuk, dan rajam lebih mewakili sya- riat Islam daripada zakat, bank-bank syariah, dan bantuan untuk duafa. Padahal inti syariat Islam adalah keadilan. Dan keadilan adalah rahmatan lil ’aalamiin, ’rahmat untuk semua orang’. Bukan hanya keadilan untuk orang Islam, tetapi semua orang: lintas agama, lintas etnis, lintas bahasa, dan lintas warna kulit.

Keadilan itu juga harus ditunjukkan dalam pergaulan sehari-hari (muamalat) hendaknya orang beragama berperilaku obyektif, yaitu menyembunyikan spiritualitas dan mengedepankan moralitas (Amin Abdullah, Dinamika Islam Kultural, Bandung: Mizan, 2000). Dengan demikian, orang lain agama dan non-agama akan merasa aman dalam pragmatisme religius karena diperlakukan sama. Semua orang mendapat penghormatan, pelayanan, dan persahabatan yang sama.

Ketegangan kreatif

Dalam pragmatisme religius kontradiksi tak terdamaikan hilang. Sisa dikotomi sekuler- religius ialah ketegangan kreatif. Ketegangan kreatif itu ialah antara zweckrational (rasional murni) dan wertrational (rasional nilai)-keduanya adalah istilah Max Weber. Pemikiran yang murni rasional (ekonomi, kekuasaan) menjadi satu dengan pemikiran berdasar nilai (ketuhanan, kemanusiaan).

Tidak ada pertentangan soal ideologi sebagaimana terjadi dalam Pemilu 1955, yang ada adalah pertentangan aktualitas. Bangsa tidak lagi menganut ideologi besar, seperti komunisme dengan klaim tunggal atas kebenaran. Orang digerakkan oleh urusan yang nyata dan kesadaran akan nilai.








Katakan walau itu pahit

Sebenarnyalah bahwa jiwa manusia didesain untuk berbuat jujur. Dalam
al Qur'an disebutkan; laha ma kasabat wa `alaiha ma iktasabat;
(Q/2:286) artinya, bahwa manusia akan memperoleh pahala atas
perbuatan baik yang dikerjakan, dan memperoleh hukuman dari perbuatan
buruk yang dilakukan. Kalimat kasabat mengandung arti mudah
mengerjakan, sedang kalimat iktasabat mengandung arti sulit
mengerjakan.

Jadi maknanya, manusia jika bertindak jujur, mengerjakan perbuatan
kebaikan, maka secara psikologis ia akan melakukannya dengan nyaman,
karena tidak disertai oleh konflik batin. Tetapi untuk tidak jujur,
untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan bisikan hati
nuraninya, maka manusia harus bersusah payah "berjuang" melawan
nurani¬nya sendiri yang tidak mau diajak kompromi. Seseorang, ketika
pertamakali melakukan kebohongan, maka ia berdebar-debar, bingung
bahkan susah tidur karena terganggu oleh pikiran dan perasaan
bagaimana harus meluruskan kebohongan yang sudah terlanjur dilakukan.
Untuk kebohongan kedua, gangguan itu semakin terasa berkurang, dan
jika ia sudah menjadi pembohong "profesional " maka baginya berbohong
atau jujur tak ubahnya pekerjaan memasang kaset, dan dalam keadaan
demikian, ia akan sulit melakukan introspeksi karena nuraninya
bagaikan cermin yang retak-retak.

Kejujuran dan kebohongan bukan sesuatu yang berdiri sendiri tetapi
berkaitan dengan keadaan sebelumnya dan membawa implikasi pada
sesudah¬nya. Kebohongan dilakukan seseorang untuk berbagai tujuan;
misalnya untuk memperoleh keuntungan materi secara tidak fair, untuk
membuat kesal atau mencelakakan orang lain, dan adakalanya untuk
menutupi kebohongan yang lain. Implikasi dari kebohongan juga berbeda-
beda. Jika kebohongan itu pada hal yang bersifat informasi,
implikasinya bisa menyesatkan atau mencelakakan orang lain. Jika
kebohongannya pada janji, maka implikasinya pada mengecewakan atau
merugikan orang lain. Jika kebohongannya pada sumpah maka
implikasinya pada merugikan dan mencelakakan orang lain.

Nabi bersabda; Sesunggguhnya kebohongan adalah satu diantara
beberapa pintu kemunafikan, innal kizba babun min abwab an nifaq.
Jadi orang yang melakukan kebohongan berarti sedang berada dalam
proses menjadi seorang munafik. Kata Nabi, tanda-tanda orang munafik
itu ada tiga; (1) jika berkata, ia berdusta, (2) jika berjanji, ia
ingkar dan (3) jika diberi kepercayaan, ia berkhianat.

Seseorang jika sudah sering berbohong, apalagi jika sudah menjadi
pembohong profesional, maka berkata benar merupakan pekerjaan yang
sangat berat bagaikan meminum obat yang pahit. Oleh karena itu Nabi
bersabda; Katakanlah yang benar meskipun pahit, Qul al haqqa walau
kana murran. Hadis ini sering disalah artikan, yakni dijadikan dasar
untuk berani membongkar kesalahan pejabat di depan umum, padahal
hadis ini juga ditujukan kepada setiap orang agar ia berani mengakui
kesalahannya secara terbuka, meski berat. Membuka kesalahan orang
lain, apalagi jika orang itu public figur, adalah pekerjaan yang
menarik syahwat, kebalikan dari mengakui kesalahan sendiri secara
terbuka.

Jika kebohongan merupakan pintu kemunafikan, maka kejujuran merupakan
pintu amanah. Sebagai contoh, Nabi memiliki sifat siddiq (benar dan
jujur), maka sifat lain yang menyertainya adalah amanah
(tanggungjawab), fathanah (cerdas) dan tabligh (menyam¬paikan secara
terbuka apa yang mesti di¬sampaikan). Kebalikannya, dusta (kizib)
akan diiringi oleh sifat curang (khiyanah), bodoh, yakni melakukan
perbuatan bodoh (jahil) dan menyembunyikan apa yang semestinya
disampaikan secara terbuka (kitman).

Manajemen Kejujuran
Manusia adalah makhluk sosial. Ia tidak akan secara otomatis menjadi
pembohong atau jujur. Seorang yang jujur, lama kelamaan bisa menjadi
pembohong jika peluangnya terbuka, sebaliknya pembohong bisa
di¬batasi ruang geraknya oleh sistem pengawasan. Untuk membangun
masyarakat dan bangsa yang beradab dan bermartabat, dibutuhkan sistem
yang memberi reward kepada orang jujur dan manajemen transparansi
yang mempersempit ruang kebohongan. Jika sistem ini berlangsung lama,
maka kebohongan akan dipandang aneh oleh masyarakat. Penulis pernah
menjumpai di Washington, koran dijual tanpa penunggu. Setiap orang
yang mau beli, cukup menaroh uang $1, di kotak dan mengambil satu
koran, dan nampaknya tidak ada orang yang berfikir untuk mengambil
lebih dari yang dibayar. Juga ada pintu tol yang tidak dijaga dimana
setiap pengendara cukup memasukkan uang ke kotak yang disediakan.
Sistem ini pasti belum bisa diterapkan di Jakarta, karena masih
banyak orang berfikir, jika bisa tidak membayar kenapa mesti bayar?

Membangun budaya jujur dan membatasi ruang gerak kebohongan memang
tidak mudah, tetapi sinergi antara sistem pendidikan, penegakan
hukum, transpa¬ransi administrasi publik, sudah barang tentu
keteladanan para pemimpin, pasti akan sangat efektif. Insya Allah.


sumber, http://mubarok-institute.blogspot.com








Apakah Kesuksesan Selalu Berkorelasi Dengan Uang?

Anda orang yang sukses? Jika ya. Berarti anda banyak uang. Setidaknya, begitulah yang ada dalam benak begitu banyak orang. Seseorang layak disebut sebagai orang sukses jika memiliki banyak uang. Jika uang yang dimilikinya tidak banyak, rasanya janggal mengait-ngaitkan orang itu dengan sebuah kesuksesan. Sewaktu saya masih kecil, guru ngaji saya mengatakan bahwa; ”orang kaya itu sungguh beruntung,” katanya. ”Karena, dengan kekayaannya, dia bisa menjadi manusia yang banyak memiliki pahala. Sebab,” lanjut beliau. ”Dengan kekayaannya itu, dia bisa berbuat begitu banyak kebajikan.” Kekayaan bisa membantu manusia menuju tempat terhormat disamping singasana Tuhan, kelak ketika mereka kembali kepada jati diri sesunggunya sesudah mati. Dengan kata lain; orang kaya itu enak didunia dan enak juga diakhirat. Tetapi, benarkah selalu demikian?

Dalam pelajaran hari selanjutnya, pak guru mengatakan bahwa: ”orang kaya itu sungguh merugi,” katanya. ”Karena, dengan kekayaannya dia bisa menjadi manusia yang banyak memiliki dosa. Sebab,” lanjut beliau. ”Dengan kekayaannya itu, dia bisa berbuat begitu banyak kesalahan.” Jadi, menjadi kaya itu sebenarnya baik apa buruk? Beliau bilang; ’menjadi kaya dengan cara yang baik adalah baik, sedangkan menjadi kaya dengan cara yang buruk adalah buruk’. Oh, jadi kaya bukanlah ukuran baik atau buruk, melainkan; bagaimana cara dia menjadi kayalah penentunya.

Seseorang yang memandang kekayaan semata sebagai ukuran sebuah keberhasilan mempunyai peluang untuk terjerumus kepada konsepsi yang salah. Bahwa hidup ini is all about being rich. Sedangkan ’bagaimana caranya’ seringkali terabaikan. Oleh karena itu; tidaklah mengherankan jika begitu banyak orang yang silau dengan kekayaan seseorang, tanpa mempedulikan ’bagaimana’ orang itu sampai kepada pencapaian material itu. Sehingga, manusia-manusia yang melakukan segala cara untuk mendapatkannya tetaplah dianggap manusia bermartabat dan terhormat. Repotnya lagi, lingkungan kita yang terlanjur hedonis ini seringkali mencibiri orang-orang yang memiliki uang pas-pasan, meski mereka senantiasa menjaga dirinya dari tindakan-tindakan tak terpuji. Kadang-kadang mereka dianggap manusia terbodoh didunia. ”Memiliki kesempatan kok tidak dimanfaatkan,” begitu kita seringa berkata. Itulah sebabnya, banyak orang baik terseret oleh arus sesat seperti itu. Sebab, kekayaan memberikan banyak kenyamanan. Siapa sih yang tidak ingin hidup nyaman?

Dihari lain guru mengaji saya bilang bahwa:”orang kaya itu paling cepat menjalani pemeriksaan diakhirat,” katanya. ”Karena, buku penilaian malaikat dipenuhi laporan daftar kebajikan yang pernah diperbuatnya semasa hidup. Sehingga,” lanjut beliau. ”Dengan sejumlah kebajikan itu, mereka layak mendapatkan tempat disorga Tuhan.” Lagipula, mengapa Tuhan harus membiarkan orang-orang baik terlalu lama menunggu untuk itu?

Dihari lain guru mengaji saya bilang bahwa:”orang kaya itu paling lambat menjalani pemeriksaan diakhirat,” katanya. ”Karena, dalam pemeriksaan itu; Tuhan mempertanyakan setiap jenis kekayaan yang dimilikinya. Semakin banyak kekayaannya, semakin panjang daftar periksa dan pertanyaan yang Tuhan ajukan. Sehingga,” lanjut beliau. ”Orang yang paling kaya, paling lama diperiksa.” Konon pertanyaan Tuhan tentang kekayaan seseorang hanya dua macam. Yaitu, pertama; bagaimana caranya dahulu kamu mendapatkan kekayaanmu itu? Dan kedua, bagaimana caranya kamu membelanjakan kekayaanmu itu?

Untuk pertanyaan pertama, Tuhan hanya mengharapkan sebuah jawaban yang menegaskan bahwa seseorang mendapatkan kekayaannya dengan cara yang benar. Bukan dengan mengambil hak orang lain. Atau merugikan pihak lain. Atau menindas. Menipu. Memanipulasi. Atau mengemplang hutang sambil berfoya-foya. Jadi, orang-orang yang sengaja berutang kemudian berpura-pura bangkrut padahal rekening kekayaannya ada dimana-mana tentu sulit untuk membohongi Tuhan. Dan orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekayaan tentu akan kebingungan ketika harus berhadapan dengan Tuhan. Sedangkan, untuk pertanyaan kedua Tuhan hanya mengharapkan sebuah jawaban yang menegaskan bahwa seseorang menggunakan kekayaannya untuk berbuat kebajikan. Bukan menindas dan memperbudak orang lain. Atau memperalat. Atau menjajah manusia lain.

Selintas, pelajaran-pelajaran ini seolah agak saling bertolak belakang. Namun, jika semuanya dikombinasikan ternyata menjadi sebuah pelajaran yang sederhana. Dan pelajaran itu berbunyi; ”Kekayaan yang didapatkan dengan cara yang baik, dan dibelanjakan dijalan yang baik akan menjadikan hari esok seseorang lebih baik. Sedangkan, kekayaan yang didapatkan dengan cara yang buruk atau dibelanjakan untuk hal-hal yang buruk; pasti menjadikan hari esok seseorang sangat buruk.”

Oleh karena itu, kesuksesan seseorang lebih banyak ditentukan oleh bagaimana cara dia menjalani kehidupannya; bukan kekayaannya. Sebab, orang-orang yang menghabiskan umurnya untuk menemukan restu Tuhan, tentulah orang-orang yang sukses itu. Meskipun orang itu tidak kaya. Karena Tuhan pastilah tidak mata duitan. Jadi, meskipun jumlah uang orang itu tidak melimpah ruah; Tuhan pasti suka kepadanya. Sedangkan, orang-orang yang dalam hidupnya memancing-mancing kemarahan Tuhan, tentulah bukan orang-orang yang sukses itu. Meskipun orang itu kaya. Sebab, Tuhan tidak selalu melihat hasil akhir, melainkan proses perjalanan orang itu untuk mencapai akhir hidupnya. Jadi, meskipun jumlah uang orang itu melimpah ruah; Tuhan belum tentu suka kepadanya. Sebab, jika uang itu didapatkan, dan dibelanjakan dengan cara yang tidak disukai Tuhan; pastilah tidak ada nilainya dimata Tuhan.

Kekayaan bukanlah satu-satunya ukuran kesuksesan. Sebab, menghubungkan kesuksesan seseorang dengan jumlah uang yang dimilikinya; sama saja dengan merendahkan martabat orang itu. Itu berarti bahwa kita lebih menghargai uangnya dari pada nilai kemanusiaannya. Karena, jika kita mengukur keberhasilan seseorang dari uangnya, maka kekaguman kita terhadap orang itu akan dengan serta merta luntur tepat disaat kita mengetahui bahwa ’ternyata, orang itu tidak sekaya yang kita kira....’

Lebih berbahaya lagi jika cara berpikir seperti itu akhirnya mendorong orang untuk melakukan tindakan yang tidak terpuji. Hanya gara-gara kita menganggap mereka banyak uang, lalu mereka berusaha untuk membenarkan dugaan kita dengan cara yang salah. Saya pernah membaca dikoran, seorang manusia terhormat berkata; ”Bagaimana saya tidak berusaha keras mencari uang? Wong setiap organisasi masa yang datang ke rumah saya selalu meminta sumbangan. Mereka pikir saya punya banyak uang. Mana percaya mereka, kalau saya katakan tidak punya uang? Jadi, saya kasihlah mereka itu uang.” Mengenaskan, bukan?

Mari kita berhenti untuk menjadikan jumlah uang dan kekayaan sebagai ukuran keberhasilan. Sehingga kita bisa lebih berfokus kepada tindakan-tindakan yang positif. Dan terhindar dari menghalalkan segala cara untuk sekedar mendapatkan uang yang banyak. Jika anda terpilih menjadi karyawan teladan di perusahaan. Meskipun pendapatan anda pas-pasan; jangan ragu untuk menyebut diri anda orang sukses. Dan percayalah, tidak ada gunung yang terbentuk begitu saja. Dia tumbuh dari anak gunung menjadi gunung besar yang menjulang. Begitu pula dengan kesuksesan. Sekecil apapun, itu akan menjadi bibit bagi kesuksesan besar anda dimasa mendatang. Itu jika anda tidak tersilaukan oleh uang. Sebab, jika uang menjadi segala ukuran kesuksesan anda; maka anda tidak akan segan untuk melakukan cara apapun agar bisa mendapatkannya. Kita tidak usah malu untuk mengakui bahwa uang kita tidak banyak. Jika kita bisa mandiri. Tidak menjadi benalu bagi orang lain. Maka nilai kesuksesan kita sama sekali tidak berkurang.

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://dkadarusman.blogspot.com/
http://www.dadangkadarusman.com/

Catatan kaki:
Jika kita menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang; sekalipun uang kita menjadi banyak, rasanya kita tidak layak untuk disebut sebagai orang sukses.






Rabu, 09 Juli 2008

Kapan Terakhir Anda Pergi ke Kuburan

*Kapan Terakhir Anda Pergi ke Kuburan ?
*By MTA – Made Teddy Artiana-
http://semarbagongpetrukgareng.blogspot.com/

*"Aku tidak mau menghantar mu, aku hanya mau menjemput mu.
Kalau ngantar, aku pasti pulang sendirian, tetapi kalau jemput, kita pulang
berdua.
Makanya kalau diminta memilih, aku lebih baik jemput daripada ngantar.
Aku nggak mau ditinggal sendirian".
*

Petikan diatas bukan sebuah puisi cinta ABG ataupun syair lagu selingkuh
'sontoloyo' yang latah dijadikan jimat penglaris artis sekarang.
Kalimat-kalimat ini yang kami dengar di rumah duka dan juga di pemakaman
suaminya. Suara itu terdengar berulang di bibir wanita muda itu. Bertiga
mereka, ibu dan dua anaknya saling berangkulan. Tubuh-tubuh mereka bergetar
lemah, lelah dihajar kesedihan dan putus asa. Tidak ada lagi tangis yang
membahana laksana guruh disiang bolong, yang ada hanya tangisan dalam yang
pilu menyayat hati. Tidak ada lagi air mata yang bisa ditumpahkan oleh
mata-mata yang bengkak karena meratap itu. Mereka menatap hampa ke arah
liang lahat, menyaksikan orang yang sangat mereka cintai, perlahan
diturunkan kedalam tanah merah. Seseorang tempat mereka berbagi canda, tawa
dan duka, kini dimasukkan ke dalam perut bumi, lewat tali-tali tambang.
Pemandangan yang membuat semua yang memiliki hati dan darah, meneteskan air
mata. Mereka yang hadir, baik yang telah beruban atau berambut hitam tampak
tertegun.

Dia, seorang manager berusia belia dari sebuah perusahaan penerbangan
terkemuka, baru saja dipanggil menghadap ilahi. Kepergiannya yang begitu
mendadak menyisakan duka yang dalam bagi istri dan anak-anaknya yang masih
kecil. Tidak hanya itu saja, perusahaan tempat ia bekerja juga kehilangan
manager unggulan yang baru saja akan dipromosikan. Begitu juga dengan kami
saudara dan sahabat-sahabat nya pun seolah tidak percaya dengan apa yang
kami lihat. Begitu muda, demikian cepat dan sangat tak terduga.

Demikianlah kematian, satu-satunya bagian dari episode kehidupan yang harus
dilalui oleh setiap mahluk yang berlabel 'hidup'. Hidup tak lengkap tanpa
nya. Kadang dia datang merangkak perlahan, namun tak jarang menyergap
tiba-tiba. Tetapi walaupun pasti, hanya sedikit dari kita yang ingat akan
bab yang satu itu. Cukup mengherankan. Apakah itu satu-satunya bab yang
tidak ingin kita bahas dari keseluruhan buku kehidupan ini. Pada bab pertama
mungkin tertulis tentang kelahiran. Bab kedua dan ketiga tentang masa kecil.
Bab ketujuh tentang pernikahan. Bab kesembilan tentang perselingkuhan yang
memuakkan. Selanjutnya tentang ambisi atau tambah istri. Bab kesebelas
tentang entrepreneurship, lalu tentang tips mendatangkan uang dan
kesuksesan. Tetapi bab terakhir, bertuliskan 'kematian', jarang dilirik.
Kurang peminat. Mungkin karena bab pertama hingga bab kesekian selalu
berbicara tentang 'aku' meskipun kadang diselubungi hal-hal yang tampak
mulia, tetapi bab terakhir –bab penutup- berbicara tegas penuh otoritas
tentang 'DIA', produser sekaligus sutradara hidup ini.

Begitu banyak mailing list tentang kesuksesan dan entrepreneur, tetapi
milist tentang 'kematian', memang bukan ide yang akan mendatangkan uang bagi
kita. Belum pernah ada seminar tentang "Seberapa Siap Anda Untuk Meninggal
Dunia ?" diproklamirkan oleh sebuah event organizer. Pernahkah Anda temui
seminar tentang "Apa Yang Telah Anda Berikan Sebelum Anda Dipanggil Sang
Khalik?" penuh sesak disemuti orang-orang berdasi. Kalaupun ada, mungkin
hanya kaum sufi dan mereka yang sengaja memencilkan diri di hutan dan
gunung, berminat akan seminar gila itu.

Pernah seorang sahabat memberikan nasehat aneh sebagai berikut. Jika suatu
saat jabatan Anda direncanakan naik lebih tinggi, atau perusahaan Anda
sedang berkembang sangat pesat, atau ada wanita cantik milik orang lain yang
menggoda, pergilah ke kuburan. Ia menyarankan kita duduk berlama-lama di
sebuah makam yang tidak kita kenal, bahkan jika Anda punya cukup nyali,
tidur beberapa menit diantara makam yang berbaris rapi. Sebuah nasehat yang
kurang waras tentunya. Tetapi ada sebuah logika yang cukup kuat didalamnya.
Maksudnya begini, 'ziarah' seringkali sangat ampuh membuat kita akan segera
ingat tentang mereka yang ada dulu pernah ada di puncak, bahwa mereka itu
semua berakhir sebagai tulang belulang diperut bumi. Ziarah serta merta akan
efektif membuat Anda ingat akan 'bab terakhir'. Pernah ada sebuah kalimat
dari seorang bijak berkata demikian, "Beritahulah aku umurku, supaya aku
tahu betapa fananya aku". Rupanya memang kita ini para manusia yang hebat,
brilian, gagah, tampan, cantik, sexy, sekaligus pelupa ini harus
sering-sering diingatkan akan bab terakhir hidup kita. Bab yang mengajarkan
kita tentang siapa Pemilik Sejati dari segalanya. Bab yang mengajarkan
bagaimana meninggalkan tinta emas pada perjalanan kita yang sebentar dimuka
bumi ini. Lampiran-lampiran terakhir yang memberikan peta yang jelas tentang
jalan pulang ke rumah. Bagian yang sering kali kita lupakan. Mungkin dengan
demikian jiwa kita akan selalu dipenuhi dengan kerendahan hati, kasih dan
syukur.

Jika demikian sepertinya frekuensi nonton bola bareng, kongkow-kongkow
dicafé atau pergi ke dugem, harus sedikit dikurangi. Mengapa ? Karena
tempat-tempat diatas seringkali membuat kita lupa akan bab terakhir.
Penggantinya adalah 'wisata lubang kubur' atau mungkin sekedar berperan
serta sebagai penghantar dalam sebuah upacara pemakaman. Kegiatan ini cukup
efektif untuk mengingatkan kita bahwa tidak ada skenario 'aku ingin hidup
seribu tahun lagi' dalam hidup ini. Apalagi cepat atau lambat, siap atau
tidak siap, kita bukan lagi sebagai pengantar, tetapi merekalah yang
mengantarkan Anda dan saya ke sana. Percayalah itu pasti terjadi.
Persoalannya, jika itu terjadi satu jam dari sekarang, apakah kita sudah
siap ? Jawaban atas pertanyaan itu tentu melibatkan banyak hal. Seberapa
indah jejak kita. Seberapa besar manfaat yang kita tinggalkan. Seberapa
banyak jalan bengkok yang telah kita luruskan....dan seterusnya dan
seterusnya.

Jika tulisan-tulisan ini lebih tampak sebagai sesuatu yang 'menakut-nakuti'
atau sesuatu yang melemahkan semangat Anda, saya pribadi mohon maaf. Karena
saya pribadipun -kalau mau jujur- takut juga. Tetapi bukankah seharusnya bab
terakhir itulah, yang membuat kita lebih termotivasi lagi, untuk
meninggalkan tinta emas pada jejak langkah kita. *Wallahualam bishawab*.








Kamis, 26 Juni 2008

Ternytata orang cacatlah obatnya

Obat dokter tidak bisa menyembuhkannya,
mengapa justru orang cacat itu yang bisa
menyembuhkan penyakitnya...?

Pak Hasan, adalah jama'ah dari embarkasi Surabaya. Ia dan istrinya berangkat ke
Mekkah kebetulan pada tahap gelombang ke dua. Artinya mereka datang dari Indonesia
langsung ke Mekah terlebih dahulu, baru kemudian ke Madinah.

Kondisi pak Hasan ketika berangkat memang agak sakit. Batuk pilek setiap hari.
Sampai dipakai berbicara saja tenggorokannya sudah terasa sakit. Batuk pilek yang
semacam itu memang membuat badan begitu capek lunglai. Semua persendian terasa
sakit. Sehingga menjadikan tubuh menjadi malas untuk diajak beraktivitas.

Beberapa kali pak Hasan diobati oleh dokter kloternya. Tetapi tetap saja sakitnya
tidak bisa sembuh. Rasanya semua macam obat yang berhubungan dengan penyakitnya
sudah ia minum. Tetapi tetap saja badan lunglai, kepala pusing bahkan batuknya
tidak pernah berhenti. Badan dengan kondisi semacam itu, mengakibatkan pak Hasan
sehari-harinya berdiam diri saja di hotel. Beberapa kali istrinya mengajaknya ke
masjidil Haram, tetapi rupanya tubuh pak Hasan tidak bisa diajak kompromi, ia
malas untuk pergi ke masjid.

"Aku belum bisa bu, dan belum kuat untuk pergi ke masjid. Ibu dulu aja-lah. Nanti
setelah badanku sembuh aku akan ke masjid dan akan melakukan ibadah dengan
sebaik-baiknya..." demikian kata pak Hasan kepada istrinya.

Karena sudah beberapa kali, jawaban pak Hasan selalu seperti itu, maka pada hari
itu istri pak hasan memohon dengan agak setengah memaksa kepada pak Hasan agar
siang itu mereka bisa bersama ke masjid untuk melakukan ibadah. Baik itu thawaf,
maupun shalat-shalat wajibnya.

Maka dengan agak terpaksa, berangkat juga mereka ke masjid. Pak Hasan di sepanjang
perjalanan menuju masjid tiada henti-hentinya batuk. Bahkan kakinya begitu capek
dipakai untuk berjalan. Tetapi toh, akhirnya sampai juga mereka di masjidil Haram.
Meskipun jarak dari maktab mereka menuju masjid cukup jauh.

Sesampai di masjid, mereka mencari tempat yang cukup nyaman. Pak Hasan dan
istrinya melakukan thawaf sunah sebagai penghormatan masuk masjidil Haram, sebelum
mereka melakukan ibadah lainnya.

Ketika pak Hasan dan istrinya melakukan thawaf inilah bagian dari cerita ini
dimulai... Dengan terbata-bata, dan masih digandeng oleh istrinya pak Hasan mulai
melakukan thawaf. Diayunkannya kaki kanannya untuk memulai thawaf.

"Bismillaahi allaahu akbar...!"Demikian kalimat pertama yang dilontarkan pak Hasan
sebagai pertanda ia memulai thawafnya. Maka dengan hati-hati sekali, karena
khawatir badannya bertambah lunglai, pak Hasan melangkahkan kakinya berjalan
memutari Ka’bah. Pada saat pak Hasan beberapa langkah memulai thawafnya itu,
tiba-tiba di sebelah kanannya, yang hampir berhimpitan dengan pak Masan, ada
seorang bertubuh kecil yang juga bergerak melakukan thawaf, beriringan dengan pak
Hasan. Entah apa yang menyebabkan pak Hasan tertarik dengan orang 'kecil' itu,
sambil berjalan lambat pak Hasan memperhatikan orang itu lebih seksama . "Mengapa
orang itu tubuhnya pendek, bahkan cenderung seperti anak kecil?" pikirnya.

Setelah beberapa lama pak Hasan memperhatikan orang tersebut, di tengah riuhnya
para jamaah yang juga sedang melakukan thawaf itu, tiba-tiba pak Hasan menjerit
lirih! " akh... !" katanya.

Begitu terkejutnya pak Hasan, sampai-sampai pak Hasan agak terhenti langkahnya.
Anehnya, orang itu pun ikut berhenti sejenak, kemudian menoleh kepada pak Hasan
sambil tersenyum. Ketika pak Hasan berjalan lagi, dia pun berjalan lagi, dan terus
mengikuti di samping pak Hasan. Ketika pak Hasan mempercepat langkah kakinya,
orang itu pun ikut mepercepat gerakannya, sehingga tetap mereka berjalan
beriringan.

Muka pak Hasan kelihatan pucat pasi. Bibirnya agak gemetar menahan tangis. Ia
betul-betul terpukul oleh perilaku orang tersebut. Seperti dengan sengaja, orang
itu terus mengikuti gerakan pak Hasan dari samping kanan. Bahkan yang membuat pak
Hasan mukanya pucat adalah orang tersebut selalu tersenyum, setelah menoleh ke
arah pak Hasan. Siapakah orang tersebut ?

Ternyata dia adalah seorang yang berjalan dan bergerak thawaf mengelilingi ka'bah
dengan hanya menggunakan kedua tangannya saja. Dia orang yang tidak memiliki
kaki....! Kedua kakinya buntung sebatas paha. Sehingga ia berjalan hanya dengan
menggunakan kedua tangannya.

Bulu kuduk pak Hasan merinding, jantungnya seolah berhenti berdegub. Keringat
dingin membasahi seluruh pori-pori tubuhnya...
Pak Hasan merintih dalam hatinya :
"...ya Allaah ampuni aku ya Allaah..., ampuni aku..." Air mata pak Hasan tidak
bisa dibendung lagi. Sambil tetap berjalan pak Hasan terus mohon ampun kepada
Allah.

Tanpa terasa, pak Hasan sudah memutari ka'bah untuk yang ke dua kalinya. Dan pak
Hasan pun masih terus menangis. Ingin rasanya ia berlari memutari ka'bah itu.
Ingin rasanya ia menjerit keras-keras untuk melampiaskan emosinya....pak Hasan
tidak tahu bahwa pada putaran yang ke dua itu ia sudah tidak bersama lagi dengan
orang tanpa kaki tersebut. Tidak tahu ke manakah perginya orang cacat itu. Seorang
yang selalu tersenyum meskipun tanpa kedua kaki.

Apa gerangan yang dipikirkan pak Hasan saat itu? Pak Hasan begitu malu pada
dirinya sendiri! Apalagi kepada Allah Swt. Pak Hasan merasa bahwa memang sakit.
Sakit flu, batuk, badan capek. Dan sudah beberapa hari berdiam diri saja di hotel
tidak ke masjid untuk thawaf. Dengan alasan badan capek, tenggorokan sakit, bahkan
obat dokter tidak ada yang bisa menyembuhkannya.

Sekarang, ditengah-tengah hiruk pikuknya para jama'ah yang sedang melakukan
thawaf, ternyata ada seorang yang tidak punya kaki, yang kondisi tubuhnya sangat
menyedihkan, tapi dengan mulut tersenyum ia melakukan thawaf...Akh! betapa
terpukulnya harga diri pak Hasan. Ia punya kedua kaki, badannya tegap, pikirannya
cerdas, datang jauh dari Indonesia, tetapi terserang penyakit ringan sejenis flu
saja sudah tidak mau beribadah? Sementara orang itu.....

Sungguh pak Hasan tidak kuasa bicara lagi. Ingin rasanya ia menjerit mohon ampunan
Allah Swt.... Atas kesalahan fatal, yang ia lakukan. Dan sejak saat itu, pak Hasan
tiba-tiba dapat bergerak gesit. Ia berjalan penuh dengan semangat mengelilingi
ka'bah pada putaran-putaran berikutnya. Dan secara tidak ia sadari badan pak Hasan
menjadi kuat. Ia tidak batuk-batuk lagi, bahkan tenggorokannya terasa begitu
ringan, ketika dipakai untuk berdo'a kepada Allah...!

Istri pak Hasan yang berjalan di samping pak Hasan, tidak mengetahui secara
detail, apa yang terjadi dalam diri pak Hasan. Yang ia tahu tiba-tiba pak Hasan
tidak batuk lagi, jalannya tidak lamban, bahkan cenderung gesit. Ah, rupanya pak
Hasan sudah sembuh

Ia disembuhkan oleh Allah lewat 'peragaan' orang cacat, yang selalu tersenyum
meskipun ia tidak punya kaki. Obat dokter tidak bisa menyembuhkan pak Hasan,
justru thawaf seorang cacat-lah, yang menjadi obat mujarabnya..
Mengapa bisa demikian ?

Sebab begitu pak hasan menyadari akan kesalahannya, ia langsung mohon ampun
sejadi-jadinya atas kekeliruan yang telah ia lakukan. Penyesalan yang tiada
terhingga itulah rupanya obat yang sesungguhnya.

QS. Hud (11) : 3
Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika
kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik
(terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan
memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.
Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari
kiamat.

QS. Hud (11) : 90
Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya
Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.

Sembuhnya pak Hasan, karena rasa penyesalan yang mendalam. Sembuhnya pak Hasan
karena ia bertaubat pada saat itu juga. Sembuhnya pak Hasan, karena Allah Dzat
Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu itu telah meridhainya. Sembuhnya pak Hasan
karena Allah memberikan sebuah obat berupa sebuah adegan atau suguhan menarik,
yang sangat mempengaruhi jiwa pak Hasan.

QS. Asy-Syuaraa' (26) : 80-82
dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku,
kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni
kesalahanku pada hari kiamat".









Rasulullah dan Pengemis Tua

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap
harinya
selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya,
"Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu
pembohong,
dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan
dipengaruhinya".

Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan
makanan,
dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang
dibawanya
kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang
menyuapinya
itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari
sampai beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan
makanan setiap
pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat
Rasulullah SAW yakni
Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak
bukan merupakan
isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu, "Anakku,
adakah kebiasaan
kekasihku yang belum aku kerjakan?".

Aisyah RA menjawab, "Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan
hampir tidak ada
satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja".
"Apakah Itu?", tanya Abubakar RA.
"Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan
makanan untuk
seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana ", kata Aisyah RA.

Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk
diberikan kepada
pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan
itu kepadanya.
Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik,
"Siapakah kamu?".
Abubakar RA menjawab, "Aku orang yang biasa (mendatangi engkau)."
"Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", bantah si pengemis
buta itu.

"Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak
susah mulut ini mengunyah.
Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku,
tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut,
setelah itu ia berikan padaku", pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata
kepada pengemis itu,
"Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang
dari sahabatnya,
orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW".

Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar
RA, dan kemudian berkata,
"Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya,
ia tidak pernah memarahiku sedikitpun,
ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... "

Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA
saat itu juga
dan sejak hari itu menjadi muslim.

Nah, wahai saudaraku, bisakah kita meneladani kemuliaan akhlaq Rasulullah
SAW?
Atau adakah setidaknya niatan untuk meneladani beliau?
Beliau adalah ahsanul akhlaq, semulia-mulia akhlaq.

Kalaupun tidak bisa kita meneladani beliau seratus persen, alangkah
baiknya kita berusaha
meneladani sedikit demi sedikit, kita mulai dari apa yang kita sanggup
melakukannya.

Sebarkanlah riwayat ini ke sebanyak orang apabila kamu mencintai
Rasulullahmu...

Sadaqah Jariah salah satu dari nya mudah dilakukan, pahalanya?
MasyaAllah....macam meter taxi...jalan terus.

Sadaqah Jariah - Kebajikan yang tak berakhir.

1. Berikan al-Quran pada seseorang, dan setiap dibaca, Anda mendapatkan
hasanah.

2. Sumbangkan kursi roda ke RS dan setiap orang sakit menggunakannya, Anda
dapat hasanah.

4. Bantu pendidikan seorang anak.

5. Ajarkan seseorang sebuah do'a. Pada setiap bacaan do'a itu, Anda dapat
hasanah.

6. Bagi CD Quran atau Do'a.

7. Terlibat dalam pembangunan sebuah mesjid.

8. Tempatkan pendingin air di tempat umum.

9. Tanam sebuah pohon. Setiap seseorang atau binatang berlindung
dibawahnya, Anda dapat hasanah.

10. Bagikan email ini dengan orang lain. Jika seseorang menjalankan salah
satu dari hal diatas,
Anda dapat hasanah sampai hari Qiamat.

Aminnnnnn...









Rabu, 25 Juni 2008

Falsafah Islam: Unsur-Unsur Hellenisme (3/3

)
Penutup

Sebagaimana telah diisyaratkan, orang-orang Muslim berkenalan dengan ajaran Aristoteles dalam bentuknya yang telah ditafsirkan dan diolah oleh orang-orang Syria, dan itu berarti masuknya unsur-unsur Neoplatonisme. Maka cukup menarik bahwa sementara orang-orang Muslim begitu sadar tentang Aristoteles dan apa yang mereka anggap sebagai ajaran-ajarannya, namun mereka tidak sadar, atau sedikit sekali mengetahui adanya unsur-unsur Neoplatonis didalamnya. Ini menyebabkan sulitnya membedakan antara kedua unsur Hellenisme yang paling berpengaruh kepada falsafah Islam itu, karena memang terkait satu sama lainnya.

Sekalipun begitu masih dapat dibenarkan melihat adanya pengaruh khas Neoplatonisme dalam dunia pemikiran Islam, seperti yang kelak muncul dengan jelas dalam berbagai paham Tasauf. Ibn Sina, misalnya, dapat dikatakan seorang Neoplatonis, disebabkan ajarannya tentang mistik perjalanan ruhani menuju Tuhan seperti yang dimuat dalam kitabnya, Isharat. Dan memang Neoplatonisme yang spiritualistik itu banyak mendapatkan jalan masuk ke dalam ajaran-ajaran Sufi. Yang paling menonjol ialah yang ada dalam ajaran sekelompok orang-orang Muslim yang menamakan diri mereka Ikhwan al-Shafa (secara longgar: Persaudaraan Suci).[17]

Demikian pula, kita sepenuhnya dapat berbicara tentang pengaruh besar Aristotelianisme, yaitu dari sudut kenyataan bahwa kaum Muslim banyak memanfaatkan metode berpikir logis menurut logika formal (silogisme) Aristoteles. Cukup sebagai bukti betapa jauhnya pengaruh ajaran Aristoteles ini ialah populernya ilmu mantiq di kalangan orang-orang Islam. Sampai sekarang masih ada dari kalangan 'ulama' kita yang menulis tentang mantiq, seperti K.H. Bishri Musthafa dari Rembang, dan ilmu mantiq masih diajarkan di beberapa pesantren. Memang telah tampil beberapa 'ulama' di masa lalu yang mencoba meruntuhkan ilmu mantiq (seperti Ibn Taymiyyah dengan kitabnya, Naqdl al-Manthiq dan al-Suyuthi dengan kitabnya, Shawn al-Mantiq wa al-Kalam 'an Fann al-Manthiq wa al-Kalam). Tetapi bahkan al-Ghazali pun, meski telah berusaha menghancurkan falsafah dari segi metafisikanya, adalah seorang pembela ilmu mantiq yang gigih, dengan kitab-kitabnya seperti Mi'yar al-Ilm dan Mihakk al-Nadhar. Bahkan kitabnya, al-Qisthas al-Mustaqim, dinilai dan dituduh Ibn Taymiyyah sebagai usaha pencampur-adukan tak sah ajaran Nabi dengan falsafah Aristoteles, karena uraian-uraian keagamaannya, dalam hal ini ilmu fiqh, yang menggunakan sistem ilmu mantiq.

Tetapi, seperti telah dikemukakan di atas, adalah mustahil melihat falsafah Islam sebagai carbon copy Hellenisme. Misalnya, meskipun terdapat variasi, tetapi semua pemikir Muslim berpandangan bahwa wahyu adalah sumber ilmu pengetahuan, dan, karena itu, mereka juga membangun berbagai teori tentang kenabian seperti yang dilakukan Ibn Sina dengan risalahnya yang terkenal, Itsbat al-Nubuwwat. Mereka juga mencurahkan banyak tenaga untuk membahas kehidupan sesudah mati, suatu hal yang tidak terdapat padanannya dalam Hellenisme, kecuali dengan sendirinya pada kaum Hellenis Kristen. Para failasuf Muslim juga membahas masalah baik dan buruk, pahala dan dosa, tanggungjawab pribadi di hadapan Allah, kebebasan dan keterpaksaan (determinisme), asal usul penciptaan, dan seterusnya, yang kesemuanya itu merupakan bagian integral dari ajaran Islam, dan sedikit sekali terdapat hal serupa dalam Hellenisme.[18]

Lebih lanjut, falsafah kemudian mempengaruhi ilmu kalam. Meski begitu, lagi-lagi, tidaklah benar memandang ilmu kalam sebagai jiplakan belaka dari falsafah. Justru dalam ilmu kalam orisinalitas kaum Muslim tampak nyata. Seperti dikatakan William Lane Craig,

... the kalam argument as a proof for God's existence originated in the minds of medieval Arabic theologians, who bequeathed to the West, where it became the center of hotly disputed controversy. Great minds on both sides were raged against each other: al-Ghazali versus Ibn Rushd, Saadia versus Maimonides, Bonaventure versus Aquinas. The central issue in this entire debate was whether the temporal series of past events could be actually infinite.[19]

(...argumen kalam sebagai bukti adanya Tuhan berasal dari dalam pikiran para teolog Arab zaman pertengahan, yang menyusup ke Barat, di mana ia menjadi pusat kontroversi yang diperdebatkan secara hangat. Pemikir-pemikir dari dua pihak berhadapan satu sama lain: al-Ghazali lawan Ibn Rusyd, Saadia lawan Musa ibn Maymun, Bonaventura lawan Aquinas. Persoalan pokok dalam seluruh debat itu ialah apakah rentetan zaman dari kejadian masa lampau itu dapat secara aktual tak terbatas).

Ilmu kalam adalah unik dalam pemikiran umat manusia. Ia merupakan sumbangan Islam dalam dunia kefilsafatan yang paling orisinil. Argumen-argumen yang dikembangkan dalam ilmu kalam menerobos dunia pemikiran Barat, sebagaimana banyak pikiran-pikiran Islam yang lain, meskipun hanya sedikit dari orang-orang Barat yang mengakuinya. Berkenaan dengan ini, Craig mengatakan lebih lanjut:

The Jewish thinkers fully participated in the intellectual life of the Muslim society, many of them writing in Arabic and translating Arabic works into Hebrew. And the Christians in turn read and translated works of these Jewish thinkers. The kalam argument for the beginning of the universe became a subject heated debate, being opposed by Aquinas, but adopted and supported by Bonaventure. The falsafa argument from necessary and possible being was widely used in various forms and eventually became the key Thomist argument for God's existence. Thus it was that the cosmological argument came to the Latinspeaking theologians of the West, who receive in our Western culture a credit for originality that they do not fully deserve, since they inherited these arguments from the Arabic theologians and philosophers, whom we tend unfortunately to neglect.[20]

(Para pemikir Yahudi berpartisipasi sepenuhnya dalam kehidupan intelektual masyarakat Muslim, banyak di antara mereka yang menulis dalam Bahasa Arab dan menterjemahkan karya-karya Arab ke dalam Bahasa Ibrani. Dan orang-orang Kristen kemudian membaca dan menterjemahkan karya-karya para pemikir Yahudi itu. Argumen kalam bagi permulaan adanya alam raya menjadi perdebatan yang panas, karena ditentang oleh Aquinas namun digunakan dan didukung oleh Bonaventure. Argumen falsafah dari wujud pasti (wajib) dan wujud mungkin (mumkin) banyak digunakan dalam berbagai bentuk dan akhirnya menjadi kunci argumen Thomis untuk adanya Tuhan. Begitulah, bahwa argumen kosmologis itu sampai ke para teolog berbahasa Latin, yang dalam budaya Barat kita mereka itu menerima pengakuan untuk orisinalitas, yang mereka sendiri tidak sepenuhnya berhak, karena mereka mewarisi argumen-argumen itu dari para teolog dan failasuf Arab, yang sayangnya cenderung kita lupakan).

Sebagaimana telah menjadi pokok pembicaraan buku William Craig yang dikutip itu, argumen-argumen kosmologis kalam ternyata kini banyak mendapatkan dukungan temuan-temuan ilmiah moderen. Teori big bang dari Chandrasekhar (pemenang hadiah Nobel), dan dikatakan dengan temuan-temuan astronomi moderen, begitu pula konsep waktu dari Newton dan Einstein, semuanya itu, menurut Craig, mendukung argumen kosmologi ilmu kalam tentang adanya Tuhan dan "personal", yang telah menciptakan alam raya ini:

We have thus concluded to a personal Creator of the universe who exists changelessly and independently prior to creation and in time subsequent to creation. This ia a central core of what theists mean by "God"...The kalam cosmological argument leads us to a personal Creator of the universe..."[21]

(Dengan begitu kita telah menyimpulkan adanya Khaliq yang personal bagi alam raya, yang ada tanpa berubah dan berdiri sendiri sebelum penciptaan alam dan dalam waktu sesudah penciptaan itu. Inilah inti pusat apa yang oleh kaum teist dimaksudkan dengan "Tuhan"...Argumen kosmologi kalam membimbing kita ke arah adanya Khaliq yang bersifat pribadi alam raya...)

Adakah membuktikan adanya Tuhan yang personal itu yang menjadi titik perhatian sentral falsafah dan kalam? Setelah membuktikan dengan dalil-dalil dan argumen-argumen yang mantap, para failasuf dan mutakallim beralih ke usaha memahami makna wujudnya Tuhan itu bagi manusia, kemudian dikembangkan menjadi dalil-dalil dan argumen-argumen untuk mendukung kebenaran agama. Seperti ditegaskan oleh Ibn Rusyd dalam Fashl al-Maqal, kegiatan berfalsafah adalah benar-benar pelaksanaan perintah Allah dalam Kitab Suci. Maka, kata Ibn Rusyd, falsafah dan agama atau syari'ah adalah dua saudara kandung, sehingga merupakan suatu kezaliman besar jika antara keduanya dipisahkan. Hanya memang, kata Ibn Rusyd lagi, terdapat halangan agama yang karena ketidak-tahuannya memusuhi falsafah, dan terhadap kalangan falsafah yang juga karena ketidak-tahuannya memusuhi syari'ah. Ibn Rusyd sendiri adalah seorang failasuf yang amat mendalami syari'ah.

CATATAN

1 R.T. Wallis, Neo Platonism (London: Gerlad Duckworth & Company Limited, 1972), h. 164.

2 C A. Qadir, Philosophy and Science in the Islamic World (London: Croom Helm, 1988). h. 28.

3 Istilah "Hellenisme" pertama kali diperkenalkan oleh ahli sejarah dari Jerman, J. G. Droysen. Ia menggunakan perkataan "Hellenismus" sebagai sebutan untuk masa yang dianggapnya sebagai periode peralihan antara Yunani kuna dan dunia Kristen. Droysen lupa akan peranan Roma dalam agama Kristen (dan membatasi seolah-olah hanya Yunani saja yang berperan). Namun ia diakui telah berhasil mengidentifikasi suatu kenyataan sejarah yang amat penting. Biasanya yang disebut zaman Hellenik yang merupakan peralihan itu ialah masa sejak tahun 323 sampai 30 S.M. atau dari saat kematian Iskandar Agung sampai penggabungan Mesir kedalam kekaisaran Romawi. Sebab dalam periode itu muncul banyak kerajaan di sekitar Laut Tengah, khususnya pesisir timur dan selatan seperti Syria dan Mesir, yang diperintah oleh bangsa Makedonia dari Yunani. Akibatnya, mereka ini membawa berbagai perubahan besar dalam banyak bidang di kawasan itu, antara lain bahasa (daerah-daerah itu didominasi Bahasa Yunani) dan pemikiran (ilmu pengetahuan Yunani, terutama filsafatnya, diserap oleh daerah-daerah itu melalui berbagai cara). (Lihat Britannica. s.v. "Hellenic Age").

4 "Sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada engkau (Muhammad) seperti yang telah Kami wahyukan kepada Nuh dan para nabi sesudahnya, dan seperti yang telah Kami wahyukan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan kelompok-kelompok (para nabi), serta kepada 'Isa Ayyub, Yunus, Harun dan Sulayman. Telah pula Kami berikan kepada Dawud (kitab) Zabur. Juga kepada para rasul yang telah Kami kisahkan mereka itu kepadamu (Muhammad) sebelumnya, dan para rasul yang tidak Kami kisahkan mereka itu kepadamu. Dan sungguh Allah telah berbicara (langsung) kepada Musa." (Q., s. al-Nisa /4:163-165).